Eropa Nilai Ancaman Trump Cuma Omon-omon: Amerika Serikat Lemah Tanpa NATO
Kredit Foto: Reuters/Ints Kalnins
Hubungan Washington dan North Atlantic Treaty Organization (NATO) memanas usai adanya ancaman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Namun sejumlah anggota aliansi menganggap hal tersebut hanyalah omon-omon dari Gedung Putih.
Menteri Pertahanan Poland, Władysław Kosiniak-Kamysz mengimbau agar semua pihak menahan diri dan tidak terbawa emosi. Trump menurutnya harus tenang dalam menghadapi permasalahan terkait, yang bisa didiskusikan dengan anggota dari NATO.
Baca Juga: Trump Merasa Jijik ke Sekutu, Amerika Serikat Tak Akan Ragu Keluar dari NATO
"Saya berharap di tengah emosi yang menyelimuti sang presiden hari ini, akan datang momen ketenangan," kata Kosiniak-Kamysz.
Ia menegaskan bahwa kedua belah pihak bukanlah apa-apa tanpa satu dengan yang lainnya, termasuk Amerika Serikat dan NATO. Dengan kata lain, keduanya saling melengkapi untuk melindungi kawasan dari Trans-Atlantik.
"Dan mengapa? Karena tidak ada aliansi tanpa mereka, dan demi kepentingan kita agar ketenangan ini datang. Tetapi juga tidak ada kekuatan mereka tanpa NATO," kata Kosiniak-Kamysz.
Adapun Presiden Finlandia Alexander Stubb menelpon langsung sosok dari Trump. Ia menekankan bahwa aliansi yang lebih blok euro sedang terbentuk. Ia mengatakan bahwa kawasannya akan memikul lebih banyak tanggung jawab dari NATO.
Meski ada seruan untuk menahan emosi, hal ini tak dilakukan oleh sejumlah pihak dari Eropa. Beberapa negara kawasan euro memberikan balasan yang lebih pedas terhadap ancaman dari Trump.
Menteri Muda Angkatan Darat Prancis Alice Rufo di sisi lain menanggapi santai, meski tak secara langsung menanggapi ancaman dari Trump. Ia menegaskan bahwa aliansi terkait hadir untuk melindungi kawasan dari Euro-Atlantik.
"Ini adalah aliansi militer yang berkaitan dengan keamanan wilayah dalam kawasan Euro-Atlantik. NATO tidak dimaksudkan untuk melakukan operasi di Selat Hormuz,"
Jerman juga menegaskan tetap berkomitmen terhadap NATO. Namun ancaman kali ini menurutnya hanyalah omon-omon terbaru dari Trump. Eropa menurutnya sudah terbiasa menghadapi dinamika tersebut.
"Ini bukan pertama kalinya dia melakukan ini, dan karena ini adalah fenomena yang berulang, Anda mungkin dapat menilai konsekuensinya sendiri," kata Jerman.
Serupa, Perdana Menteri United Kingdom, Keir Starmer menyatakan bahwa negaranya akan bertindak berdasarkan kepentingan nasional, terlepas dari “kebisingan” politik yang terjadi. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan ekonomi dan pertahanan dengan negara-negara Eropa di tengah ketidakpastian global.
"Ketidakstabilan ini berarti kami harus beralih fokus untuk menjalin hubungan ekonomi dan pertahanan yang lebih erat dengan Eropa," katanya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan untuk menarik negaranya keluar dari NATO. Hal ini usai negara anggota aliansi tersebut menolak memberikan dukungan militer, termasuk tidak mengirim kapal untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
Trump sebelumnya mengkritik negara-negara blok euro yang menolak mengirim kapal untuk membantu membuka Strait of Hormuz. Ia juga kesal dengan sejumlah negara yang menolak untuk terlibat dalam perangnya dengan Iran.
Diketahui, Prancis dilaporkan menolak memberikan izin penggunaan wilayah udaranya ke Amerika Serikat dan Israel. Mereka menolak wilayah udaranya untuk digunakan sebagai jalur pengiriman senjata ke Timur Tengah.
Italia juga melakukan hal serupa. Ia dilaporkan menolak memberikan izin untuk pesawat militer dari Amerika Serikat. Pesawat itu dilaporkan akan digunakan untuk misi di Timur Tengah.
Baca Juga: Tak Dibantu Soal Iran, Trump Ogah Bantu Lagi Sekutu Amerika Serikat: Carilah Minyak Kalian Sendiri
Spanyol di sisi lain mengambil langkah tegas dengan menutup wilayah udaranya bagi pesawat militer dari Amerika Serikat. Menteri Pertahanan Spanyol, Margarita Robles menegaskan bahwa negaranya tidak mengizinkan penggunaan wilayah udara maupun pangkalan militer untuk operasi yang berkaitan dengan konflik dari Iran dan Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Advertisement