Kredit Foto: Abdul Aziz
PTPN IV PalmCo kembali menoreh kerja impresif dalam upaya mengakselerasi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Tengok sajalah, hingga Februari tahun ini, sub-holding BUMN perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia itu telah merealisasikan Rekomendasi Teknis (Rekomtek) untuk kebun sawit rakyat seluas 2.287 Hektare (Ha).
Angka di atas tumbuh 25% ketimbang periode yang sama di tahun lalu. Tren ini mempertunjukkan bahwa komitmen perusahaan dalam mendorong transformasi dan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat di Indonesia, begitu besar.
Sepanjang tahun lalu, perusahaan telah menuntaskan realisasi Rekomtek hingga menyentuh angka 23.188 Ha.
Dalam siaran persis yang diterima wartaekonomi jelang siang tadi, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa menyebut, apa yang telah dicapai tadi tidak ujug-ujug, tapi adalah hasil dari strategi sistematis dan pendampingan intensif yang dilakukan perusahaan kepada para petani di berbagai daerah.
"Realisasi 2.287 Ha di dua bulan pertama tahun 2026 ini adalah wujud nyata kehadiran negara melalui PalmCo, untuk terus berada di garis depan dalam mendampingi petani sawit kita," lelaki 54 tahun ini memastikan.
Menurutnya, pertumbuhan 25% di awal tahun menjadi indikator bahwa sistem kerja sama dan pola kemitraan yang dibangun semakin matang.
"Strategi akselerasi yang kami inisiasi berjalan pada jalur yang tepat. Kami memangkas hambatan birokrasi di lapangan, bergerak lebih cepat, dan tentunya semakin efisien dalam mengeksekusi program bersama instansi terkait," ujarnya.
Bagi Jatmiko, keberhasilan perusahaan melampaui target di awal tahun ini tidak lepas dari strategi jemput bola yang diterapkan manajemen.
Tim PTPN IV PalmCo secara proaktif turun ke sentra-sentra sawit rakyat untuk melakukan sosialisasi dan pendampingan pemberkasan, sebuah proses yang seringkali menjadi kendala utama bagi petani swadaya.
Selain itu, kolaborasi multi-pihak yang solid menjadi tulang punggung keberhasilan program ini. PalmCo terus memperkuat sinergi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Pemerintah Daerah tingkat Provinsi hingga Kabupaten, aparatur penegak hukum, serta berbagai asosiasi petani kelapa sawit.
Upaya perusahaan dalam percepatan program PSR kata Jatmiko, bukan sekadar mengganti tanaman tua, lebih dari itu, PSR adalah bagian dari desain besar ketahanan pangan dan energi nasional.
Di sisi lain, PTPN IV PalmCo sendiri paham, saat ini, banyak kebun rakyat mengalami stagnasi produktivitas akibat usia tanaman yang sudah melewati masa produktif, atau penggunaan benih ilegitim (tidak bersertifikat) di masa lalu.
Lantaran itulah, melalui pendampingan program PSR, petani difasilitasi mendapatkan akses dana dari BPDP untuk meremajakan kebun mereka dengan memakai bibit unggul bersertifikat.
"Transformasi perkebunan sawit rakyat adalah kunci mutlak untuk menjaga daya saing industri sawit Indonesia di pasar global. Itulah makanya, PalmCo tidak hanya fokus membantu proses percepatan administrasi Rekomtek hingga dana cair. Tapi tanggung jawab kami lebih jauh lagi, mengawal implementasi Good Agricultural Practices (GAP) di lapangan," tegas Jatmiko.
Dengan menerapkan GAP yang disiplin kata Jatmiko, produktivitas kebun rakyat akan meningkat tajam, ujung-ujungnya, tentu akan mendongkrak pendapatan petani menjadi lebih signifikan.
Menengok sisa waktu di tahun ini, PTPN IV PalmCo optimis bisa mempertahankan momentum percepatan. Keberhasilan program PSR tidak hanya krusial untuk mengamankan pasokan bahan baku Crude Palm Oil (CPO) dan minyak goreng nasional, tetapi juga diharapkan mampu memberikan multiplier effect (efek ganda) yang menggerakkan roda perekonomian di kawasan perdesaan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Abdul Aziz
Tag Terkait:
Advertisement