Kredit Foto: Antara/Iggoy el Fitra
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, mengungkapkan tingginya jumlah peserta nonaktif serta lonjakan biaya layanan kesehatan menjadi tekanan utama bagi keberlanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hingga awal 2026.
Per Februari 2026, tercatat sebanyak 58,32 juta peserta JKN berstatus nonaktif. Kondisi ini berdampak langsung terhadap keseimbangan keuangan program.
Pujo merinci, dari total peserta nonaktif tersebut, sebanyak 13,48 juta jiwa disebabkan oleh tunggakan iuran. Sementara itu, 44,84 juta jiwa lainnya berasal dari penonaktifan segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) oleh pemerintah daerah.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari peningkatan biaya layanan kesehatan. Realisasi biaya manfaat pada 2025 tercatat meningkat 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan lonjakan beban penyakit katastropik.
“Dari sisi manfaat terdapat kondisi realisasi biaya manfaat tahun 2025 meningkat 11 persen dibandingkan tahun 2024. Berikutnya adalah beban biaya penyakit katastropik tahun 2025 sebesar Rp50,28 triliun meningkat 12 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp44,8 triliun,” ujar Pujo dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Ia menambahkan, tren peningkatan penyakit tidak menular seperti diabetes melitus dan hipertensi pada usia muda turut memperbesar beban pembiayaan JKN dan memperparah tekanan terhadap struktur pendanaan program.
Dari sisi penerimaan, tantangan juga muncul pada kelompok peserta informal. Pujo menyebut kemauan membayar iuran pada segmen PBPU masih rendah dan tidak stabil.
“Penurunan dana transfer ke daerah berpotensi memengaruhi kapasitas fiskal pemda dalam memenuhi kewajiban pembayaran iuran JKN,” katanya.
Secara keuangan, kondisi JKN juga menghadapi tekanan likuiditas. Per Desember 2025, tingkat kesehatan aset neto hanya mencapai 1,93 bulan klaim, yang mencerminkan terbatasnya cadangan untuk mengantisipasi lonjakan klaim.
Baca Juga: WNA Bisa Jadi Peserta JKN, Ini Kata Dirut BPJS Kesehatan
Baca Juga: BPJS Kesehatan Jebol! Klaim Tembus 111%, Defisit di Depan Mata
Baca Juga: Lewat TikTok Live, BPJS Kesehatan On Air Buka Ruang Tanya Jawab Keluhan Peserta
Selain aspek keuangan, BPJS Kesehatan juga mencatat peningkatan pengaduan peserta, terutama terkait akses layanan. Keluhan yang dominan mencakup ketidaksesuaian jadwal dokter, antrean panjang, serta keterbatasan kapasitas fasilitas kesehatan.
“Berikutnya adalah keluhan-keluhan sering mengenai ketersediaan obat. Kemudian adalah sikap petugas administrasi maupun tenaga kesehatan yang kurang ramah,” ujar Pujo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri