Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ini Alasan Kenapa Kata 'Palestina' dan 'Gaza' Tidak Ada Dalam Klausul Gencatan Senjata AS-Iran

Ini Alasan Kenapa Kata 'Palestina' dan 'Gaza' Tidak Ada Dalam Klausul Gencatan Senjata AS-Iran Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman menjelaskan alasan absennya penyebutan kata "Palestina" atau "Gaza" secara spesifik dalam draf 10 kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Ia meyakini ini sebagai langkah strategis diplomasi dari Iran guna mencegah buntunya kesepakatan akibat isu yang sangat sensitif.

Berdasarkan 10 poin proposal yang dirilis, teks resmi yang disiarkan media pemerintah Iran, PressTV, menyebutkan klausul "penghentian perang di semua lini, termasuk melawan Perlawanan Islam Lebanon."

Pernyataan senada juga ditegaskan oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang bertindak selaku mediator perundingan. Sharif mengumumkan bahwa gencatan senjata antara AS, Iran, beserta sekutu-sekutunya berlaku "di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lain."

"Meski tidak dicantumkan secara gamblang, wilayah Gaza diyakini secara otomatis masuk ke dalam kategori "semua lini" dan "tempat lain" tersebut," kata Dina.

Ia menyambung langkah menyembunyikan kata "Gaza" di balik frasa umum ini dinilai sebagai bentuk kecerdasan diplomatik Iran.

"Pasalnya, krisis Gaza merupakan titik paling sulit untuk disepakati. Memaksakan pencantuman Gaza secara eksplisit berisiko besar menggagalkan kesepakatan sejak awal, karena akan membuat Amerika Serikat kesulitan untuk "menjual" draf tersebut kepada Israel," tambahnya.

Dina yang juga Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjajara itu menambahkan secara politik, penyebutan Gaza juga akan memosisikan AS seolah-olah mengorbankan kepentingan Israel. 

"Dalam praktik diplomasi, kesepakatan sering kali tidak bergantung pada penyebutan seluruh tuntutan secara terperinci, melainkan pada pemilihan bahasa yang dapat diterima semua pihak agar proses perundingan tetap berjalan dan kesepakatan tidak runtuh," tutupnya.

Sepuluh poin tuntutan Iran:

  1. Tidak melakukan agresi
  2. Melanjutkan kendali Iran atas Selat Hormuz
  3. Menerima pengayaan uranium
  4. Mencabut semua sanksi utama
  5. Mencabut semua sanksi sekunder
  6. Mengakhiri semua resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran
  7. Mengakhiri semua resolusi Dewan Gubernur IAEA terkait Iran
  8. Pembayaran kompensasi kepada Iran
  9. Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut
  10. Penghentian perang di semua front, termasuk melawan Perlawanan Islam Lebanon yang heroik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement