Ancaman Kejahatan Siber Gim Meledak 86% di Asia Tenggara, Gamer Muda Jadi Target Utama
Kredit Foto: Unsplash/Fredrick Tendong
Asia Tenggara mengalami lonjakan signifikan sebesar 86% dalam ancaman siber, terkait gim sepanjang 2025, dengan gamer muda menjadi sasaran utama, sedangkan Indonesia justru mencatat penurunan sebesar 42,2%.
Data terbaru dari Kaspersky menunjukkan peningkatan tajam dalam jumlah ancaman siber yang terdeteksi pada perangkat pengguna di kawasan Asia Tenggara, dari semester pertama ke semester kedua tahun 2025.
Gim populer seperti Roblox, Minecraft, dan Genshin Impact menjadi umpan utama bagi pelaku kejahatan siber untuk menjebak korban.
Di tingkat regional, lonjakan ancaman siber terkait gim di Asia Tenggara rata-rata menunjukkan kenaikan.
Vietnam mencatat peningkatan paling tinggi hingga 202,5%, diikuti Thailand sebesar 104,4%, Singapura naik 22,1%, dan Malaysia naik 21,3%.
Sementara, Indonesia justru mencatat penurunan sebesar 42,2% pada paruh kedua 2025 dibandingkan semester pertama.
Meski begitu, ancaman di Indonesia dinilai masih jauh dari kata aman.
Serangan ini umumnya menyasar gamer muda dengan memanfaatkan ketertarikan mereka terhadap modifikasi gim, item eksklusif, hingga cheat.
"Kami terus mengamati peningkatan intensitas ancaman siber terkait gim yang menargetkan anak-anak muda."
"Karena, penjahat siber berupaya mengeksploitasi tingkat konektivitas digital mereka yang tinggi, dan antusiasme mereka terhadap gim populer," papar Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel untuk Asia Pasifik di Kaspersky.
Dalam kasus Minecraft, pelaku menyisipkan malware melalui file mod atau cheat palsu.
Sementara pada Roblox, korban sering diarahkan ke situs palsu yang menjanjikan skin langka, namun berujung pada pencurian data pribadi dan finansial.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga meluas ke lingkungan keluarga.
Anak-anak yang menjadi korban bisa saja tanpa sadar membagikan informasi sensitif seperti data kartu kredit orang tua atau alamat rumah, yang kemudian dimanfaatkan untuk kejahatan lanjutan seperti penipuan hingga rekayasa sosial.
"Ancaman ini tidak hanya membahayakan keamanan siber para gamer muda kita, tetapi juga keamanan siber lingkungan keluarga mereka, karena mereka bertindak sebagai titik masuk ke jaringan keluarga yang lebih luas," beber Choon.
Untuk mengurangi risiko, pengguna disarankan tidak mengunduh aplikasi dari sumber tidak tepercaya, selalu memeriksa tautan sebelum diklik, serta rutin melakukan pemindaian malware.
Baca Juga: Sektor Finansial dan Publik Jadi Target Utama Serangan Siber, Ini Alasannya
Orang tua juga didorong untuk mulai mengenalkan edukasi keamanan siber sejak dini, membantu anak membuat kata sandi yang kuat, serta menggunakan solusi keamanan digital guna melindungi aktivitas online keluarga.
"Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menyadari pentingnya melindungi interaksi digital setiap anggota keluarga, untuk benar-benar memastikan keamanan digital mereka,” imbaunya. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Yaspen Martinus