Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Stablecoin Diprediksi Akan Kuasai Keuangan Dunia, Volume Transaksi Tembus US$719 Triliun

Stablecoin Diprediksi Akan Kuasai Keuangan Dunia, Volume Transaksi Tembus US$719 Triliun Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Stablecoin diperkirakan akan menjadi lapisan fundamental dalam sistem keuangan global, dengan volume transaksi yang disesuaikan mencapai US$719 triliun di 2035.

Laporan Chainalysis menyebutkan bahwa pertumbuhan stablecoin didorong oleh adopsi organik yang mencerminkan perubahan struktural dalam cara nilai ditransfer, baik lintas negara maupun dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Baca Juga: Korea Selatan Siapkan Kebijakan Aset Digital, Atur Stablecoin hingga Cegah Penipuan Kripto

Salah satu pendorong utama pertumbuhan adalah perpindahan kekayaan antar generasi yang diperkirakan mencapai US$100 triliun dari Baby Boomers ke Milenial dan Gen Z. Generasi muda dinilai lebih terbiasa menggunakan aset kripto sebagai instrumen keuangan, yang berpotensi mengubah preferensi pembayaran secara global.

“Ketika kripto menjadi default bagi generasi berikutnya, pertanyaannya bukan lagi apakah stablecoin akan bersaing dengan sistem tradisional, tetapi seberapa cepat mereka menggantikannya,” ungkap Chainalysis.

Pada 2025, stablecoin telah mencatat transaksi lebih dari US$35 triliun dalam jaringan blockchain. Namun McKinsey & Company dan Atermis Analytics bahwa hanya sekitar 1% yang digunakan untuk pembayaran dunia nyata.

Volume transaksi stablecoin tersebut kini semakin mendekati jaringan pembayaran tradisional seperti Visa dan Mastercard. Chainalysis memperkirakan pembayaran berbasis blockchain dapat menyamai volume kedua raksasa tersebut paling lambat pada 2039.

Hal ini tidak terlepas dari kelebihan stablecoin. Berbeda dengan sistem kartu konvensional, stablecoin menawarkan transaksi hampir instan (real-time), operasi 24/7 tanpa batas waktu, biaya lebih rendah dan kemampuan programmable (otomatisasi transaksi). Keunggulan ini dinilai mampu mengurangi hambatan dalam remitansi, pembayaran bisnis, hingga manajemen kas perusahaan.

Seiring meningkatnya adopsi oleh merchant, penggunaan stablecoin diperkirakan akan bergeser dari pilihan aktif menjadi infrastruktur “tak terlihat” dalam sistem pembayaran global. Artinya, pengguna bisa melakukan transaksi tanpa menyadari bahwa teknologi blockchain bekerja di belakang layar.

Chainalysis juga memperkenalkan konsep baru berupa agen intelijen blockchain untuk membantu institusi beradaptasi dengan perubahan ini.

“Lembaga-lembaga yang membangun sistem pembayaran on-chain sekarang akan menentukan era keuangan global berikutnya, sementara mereka yang menunggu berisiko terjebak pada sistem yang sudah ada,” kata Chainalysis.

Baca Juga: Investor Kakap Amerika Serikat Bilang Stablecoin Akan Jadi Sistem Pembayaran Global, Ini Alasannya

Laporannya menegaskan bahwa institusi yang lebih cepat membangun sistem berbasis blockchain akan menjadi pemimpin dalam era baru keuangan global. Sebaliknya, pihak yang terlambat beradaptasi berisiko bergantung pada infrastruktur milik pihak lain.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: