Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Purbaya Bakal Itung-Itungan Soal Konsumen Pertamax yang Pindah ke Pertalite

Purbaya Bakal Itung-Itungan Soal Konsumen Pertamax yang Pindah ke Pertalite Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dinilai berpotensi mendorong sebagian konsumen beralih ke BBM bersubsidi seperti Pertalite. Namun, pemerintah menilai dampak perpindahan tersebut sejauh ini belum terjadi secara masif dan belum diperkirakan akan memberikan tekanan besar terhadap anggaran subsidi energi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui adanya potensi pergeseran konsumsi setelah harga Pertamax mengalami penyesuaian. Meski demikian, ia menilai tidak semua pengguna Pertamax akan beralih ke Pertalite karena sebagian konsumen mempertimbangkan kesesuaian bahan bakar dengan spesifikasi kendaraan mereka.

“Kami nggak hitung (potensi tambahan anggaran subsidi). Tapi begini, pasti ada beberapa persen yang pindah, cuma kan harusnya nggak semuanya pindah. Kenapa? Karena yang beli Pertamax tahu mobilnya cocok untuk Pertamax,” ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2026) dikutip dari ANTARA.

Menurut Purbaya, pemerintah juga belum memiliki rencana untuk menghitung potensi tambahan kebutuhan subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akibat kemungkinan perpindahan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.

Ia menyerahkan proyeksi besaran perpindahan konsumen tersebut kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menjadi otoritas terkait sektor energi.

Sementara itu, Kementerian ESDM menilai dampak kenaikan harga Pertamax terhadap pola konsumsi masyarakat masih relatif terbatas. Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, mengatakan pergeseran konsumsi yang terjadi hingga kini belum menunjukkan tren yang signifikan.

“Alhamdulillah tidak terlalu besar shifting-nya,” kata Anggia saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta.

Ia menjelaskan bahwa perpindahan yang lebih terlihat saat ini justru berasal dari pengguna Pertamax Turbo yang beralih ke Pertamax, bukan dari Pertamax ke Pertalite dalam jumlah besar.

Meski demikian, pemerintah tetap mengantisipasi kemungkinan meningkatnya konsumsi Pertalite. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempertahankan penggunaan kode batang (QR code) untuk pembelian Pertalite serta meminta Pertamina meningkatkan pengawasan distribusi BBM bersubsidi.

Baca Juga: Kenaikan Harga Pertamax Sulit Dihindari, Pengamat Sebut Seharusnya Sudah Sejak Lama

Anggia juga menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi, yakni Pertalite dan Biosolar, dipastikan tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun. Kebijakan tersebut disebut sebagai langkah perlindungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di tengah ketidakpastian pasar energi global akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah.

Sebelumnya, Pertamina Patra Niaga mengumumkan kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 meningkat dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Di sisi lain, harga Pertalite tetap dipertahankan pada level Rp10.000 per liter dan Biosolar sebesar Rp6.800 per liter. Selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite inilah yang berpotensi memengaruhi pilihan konsumen, meski pemerintah menilai dampaknya terhadap konsumsi BBM bersubsidi masih terkendali.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat