Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Post Gambar Layaknya Juru Selamat, Trump Serang Paus Leo: Dia Lemah, Seharusnya Tak Jadi Pemimpin Gereja Katolik

Post Gambar Layaknya Juru Selamat, Trump Serang Paus Leo: Dia Lemah, Seharusnya Tak Jadi Pemimpin Gereja Katolik Kredit Foto: Truth Social
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menjadi sorotan usai dirinya memberikan kritikan keras terhadap Pope Leo XIV. Hal ini menyusul kecaman dari sang tokoh religius terkait dengan peran dari Iran dan Amerika Serikat.

Trump menyebut sang paus sebagai sosok yang lemah dan tidak memiliki kemampun untuk berpolitik dalam ranah internasional. Ia juga menyatakan secara terbuka bahwa dirinya bukan penggemar Paus Leo XIV.

Baca Juga: Trump Akui Harga Bensin Akan Melonjak, Efek Belum Ada Kesepakatan Iran-Amerika Serikat

"Paus Leo lemah dan buruk dalam kebijakan luar negeri. Saya tidak menginginkan seorang paus yang mengkritik presiden karena saya melakukan persis apa yang menjadi tujuan saya dipilih di Amerika Serikat," ungkap Trump di Truth Social.

Trump juga mengatakan bahwa seharusnya posisi paus tak dimiliki oleh Leo. Menurutnya, Leo terpiliha karena dia merupakan warga negara dari Amerika Serikat. Vatikan menurutnya memilik sosok tersebut khusus untuk menahan ambisi dari Amerika Serikat.

"Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, dia adalah kejutan yang mengejutkan. Dia tidak ada dalam daftar calon paus, dan hanya ditempatkan di sana oleh Gereja karena dia orang dari Amerika. Mereka berpikir itu akan menjadi cara terbaik untuk menghadapi saya," tegas Trump.

Trump juga mengatakan bahwa jika dirinya bukan seorang presiden, maka gereja tidak mungkin memilih sosok dari Leo. Ia mengatakan bahwa sang paus harus segera memperbaiki sikapnya untuk fokus dengan urusan dari Gereja Katolik.

"Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai paus, menggunakan akal sehat dan fokus untuk menjadi paus yang hebat, bukan seorang politisi. Hal itu sangat merugikannya dan, yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik," ungkap Trump.

Sebelumnya, Paus Leo menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk mengakhiri ambisi melakukan perang. Hal ini menyusul gencatan senjata selama dua minggu dan perundingan dari Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan.

Paus Leo mendesak para pemimpin dunia untuk segera menghentikan eskalasi konflik. Hal ini menjadi seruan terbarunya untuk menghentikan perang dari Washington dan Teheran di Timur Tengah.

"Hentikan! Sudah waktunya untuk perdamaian! Duduklah di meja dialog dan mediasi, bukan di meja tempat persenjataan ulang direncanakan," kata Leo.

Ia juga memperingatkan adanya delusi kekuasaan yang membuat situasi global semakin tidak stabil dan sulit diprediksi. Paus Leo juga secara khusus mengecam penggunaan bahasa agama untuk membenarkan konflik bersenjata.

Nama Tuhan menurutnya tidak boleh digunakan untuk membenarkan kekerasan. Ia juga mengecam penggunaan retorika religius dalam perang karena mengancam nilai kemanusiaan secara global.

Perseteruan Trump dan Paus Leo  mencerminkan benturan antara pendekatan keamanan dan politik hingga nilai moral dan kemanusiaan Isu ini tidak hanya berdampak pada hubungan politik, tetapi juga memicu perdebatan global mengenai arah kebijakan internasional.

Baca Juga: Padahal Trump Mau Hentikan Operasi Militer, Ini Alasan Gagalnya Negosiasi Iran dan Amerika Serikat

Pernyataan keras dari kedua pihak membuat dunia menyoroti hubungan antara Washington dan Vatikan. Di tengah konflik geopolitik yang lebih luas, perbedaan pandangan ini memperlihatkan kompleksitas dinamika antara politik, agama dan kebijakan global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar