- Home
- /
- New Economy
- /
- CSR
Fujifilm Indonesia Lanjutkan 'First Family Photo', Abadikan Momen Kebersamaan Anak Panti
Kredit Foto: Istimewa
Fujifilm Indonesia kembali melanjutkan program “First Family Photo” pada tahun ini dengan mengunjungi tiga panti asuhan di Jakarta. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak mengabadikan momen pertama mereka bersama orang-orang yang mereka anggap sebagai keluarga.
Program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperluas makna fotografi dalam kehidupan sehari-hari, sejalan dengan tujuan global Fujifilm Group. Dengan menggunakan kamera instax, anak-anak tidak hanya berfoto, tetapi juga menentukan sendiri dengan siapa dan momen apa yang ingin mereka simpan. Setiap hasil cetakan foto menjadi ruang untuk merekam kedekatan, menyimpan kenangan, serta menghadirkan kehangatan, terutama bagi mereka yang tidak selalu tumbuh dalam keluarga utuh.
Inisiatif ini juga terhubung dengan program Instaxnesia yang diwujudkan melalui artbook berjudul Instaxnesia: A Nation of Creative Expression. Buku tersebut merupakan hasil kolaborasi antara medium fotografi instan instax dan 35 kreator seni dari berbagai daerah di Indonesia. Seluruh hasil penjualannya didedikasikan untuk mendukung kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di panti asuhan.
Selain kegiatan fotografi, Fujifilm Indonesia turut menyalurkan bantuan berupa kebutuhan pokok, perlengkapan sekolah, serta makanan berbuka puasa kepada tiga panti asuhan yang dikunjungi, yakni Yayasan Panti Asuhan Daarul Berkah Rahman, Panti Asuhan Nurul Iman Mentas, dan Panti Asuhan dan Tahfidz Quran Aisyiyah.
Di Yayasan Panti Asuhan Daarul Berkah Rahman, Jagakarsa, suasana langsung berubah meriah saat sesi foto dimulai. Hitungan sederhana diiringi tawa anak-anak yang penasaran menunggu hasil foto keluar dari kamera.
Bagi sebagian besar anak, ini menjadi pengalaman pertama memegang kamera sekaligus melihat hasil foto yang langsung tercetak di tangan mereka. Momen tersebut pun terasa lebih personal ketika mereka mulai memilih sendiri teman, sahabat, atau orang tua asuh untuk berfoto bersama.
“Ini pengalaman pertama mereka bisa pegang kamera, foto bareng, dan langsung dapat hasilnya. Suatu saat ketika mereka berpisah, foto ini akan jadi kenangan,” ujar Annisa Novitasari, ibu asuh di yayasan tersebut.
Salah satu anak, Shafa (13), mengaku setiap foto yang diambil memiliki arti tersendiri. Ia menyebut momen berfoto bersama teman-temannya jarang terjadi, sehingga hasil foto yang didapat menjadi sangat berharga.
Makna berbeda juga dirasakan di Panti Asuhan Nurul Iman Mentas. Dengan keterbatasan penggunaan ponsel, foto fisik menjadi media utama bagi anak-anak untuk menyimpan kenangan visual.
“Foto itu jadi memori. Anak-anak pasti akan simpan kenangan hari ini sampai mereka besar nanti,” kata Sekretaris panti, Budi Sulistio.
Bagi anak-anak, foto cetak memiliki nilai lebih karena dapat disentuh, dilihat berulang kali, dan tidak mudah tergantikan seperti foto digital. Beberapa anak bahkan berencana menempelkan foto tersebut di dinding kamar sebagai pengingat momen kebersamaan.
Kegiatan ini juga membuka perspektif baru tentang makna keluarga. Bagi anak-anak di panti asuhan, keluarga tidak selalu terbentuk dari hubungan darah, melainkan dari kebersamaan dan relasi sehari-hari.
Di Panti Asuhan dan Tahfidz Quran Aisyiyah, konsep ini diterapkan melalui pendekatan pengasuhan yang melibatkan banyak pihak. “Tidak hanya merawat anak-anak, tetapi juga membangun hubungan dengan orang tua atau wali yang masih ada demi masa depan mereka,” ujar salah satu pengasuh.
Melalui sesi foto bersama, hubungan tersebut tidak hanya dirasakan, tetapi juga diabadikan menjadi kenangan yang dapat mereka simpan.
President Director Fujifilm Indonesia, Masato Yamamoto, menegaskan bahwa program “First Family Photo” dirancang untuk memberikan ruang bagi anak-anak memiliki kenangan yang bermakna.
Baca Juga: Presiden Prabowo Buka Istana untuk Anak-Anak Sekolah
“Kami percaya fotografi memiliki kekuatan untuk memvalidasi keberadaan seseorang. Kami ingin memastikan setiap anak memiliki sesuatu yang bisa mereka pegang sebagai bukti bahwa mereka dicintai dan menjadi bagian dari sebuah keluarga,” ujarnya.
Sejak pertama kali dijalankan pada 2022, program ini telah menjangkau 17 panti asuhan. Melalui inisiatif berkelanjutan ini, Fujifilm Indonesia berharap anak-anak tidak hanya membawa pulang foto, tetapi juga rasa memiliki, diingat, serta keyakinan bahwa cerita hidup mereka layak untuk disimpan dan dikenang.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement