Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

OJK Perkuat Ekosistem Pesantren untuk Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah

OJK Perkuat Ekosistem Pesantren untuk Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat melalui penguatan ekosistem pesantren sebagai langkah strategis mendukung program prioritas pemerintah dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.

Upaya tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, dalam kegiatan Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) dan Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH) yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Selasa.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara OJK, Badan Gizi Nasional (BGN), dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Dicky menyampaikan bahwa pondok pesantren dengan jumlah santri yang besar memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Menurutnya, pesantren merupakan ekosistem kuat yang dapat mendukung berbagai program prioritas pemerintah.

“Program pemerintah saat ini tidak hanya berbicara mengenai kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk generasi ke depan. Ini merupakan sebuah kebersyukuran bagi kita semua ketika memiliki program yang berorientasi jangka panjang seperti ini,” ujar Dicky.

Ia menjelaskan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Program tersebut juga membuka peluang ekonomi yang luas melalui keterlibatan berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan hingga perkebunan.

Masyarakat di sekitar pesantren, lanjutnya, dapat terlibat sebagai pemasok kebutuhan dalam rantai pasok program MBG, sehingga menciptakan perputaran ekonomi yang lebih kuat.

OJK, kata Dicky, tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai katalis dan fasilitator yang mempercepat konektivitas serta membuka akses keuangan bagi masyarakat. Peran tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang langsung menyentuh kebutuhan di lapangan, termasuk FEBIS yang mempertemukan pelaku usaha dengan lembaga jasa keuangan syariah melalui skema business matching.

Sementara itu, Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sanjaya, menyebut program MBG menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta peserta didik termasuk santri.

“Pemerintah ingin memastikan bahwa bahkan sejak dalam kandungan, generasi penerus bangsa sudah mendapatkan asupan gizi yang baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, program tersebut juga melibatkan jutaan relawan, khususnya dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan sekaligus menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

Di sisi lain, Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyatakan dukungan penuh terhadap program MBG. Menurutnya, program tersebut penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia santri secara menyeluruh.

“Yang ingin kita lakukan adalah meningkatkan kualitas manusia seutuhnya yang dididik dan dihasilkan oleh pesantren. Manusia yang secara intelektual unggul, secara fisik semakin unggul, dan secara rohaniah tetap terjaga,” ujar Gus Yahya.

Melalui kegiatan SAKINAH yang mengusung tema “Santri Sehat, Keuangan Kuat, Masa Depan Hebat”, OJK juga memberikan edukasi kepada ratusan santri terkait produk dan layanan keuangan syariah, pengelolaan keuangan, kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal, serta pentingnya pemenuhan gizi.

Baca Juga: IHSG Terus Meningkat, Ramuan Reformasi Pasar Modal OJK Terbukti Manjur

Selain itu, kegiatan FEBIS yang diikuti sekitar 150 peserta turut mendorong perluasan akses keuangan syariah di lingkungan pesantren. Peserta terdiri dari pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), badan usaha milik NU, pelaku usaha, serta pemasok dalam rantai pasok program MBG.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, dilakukan pula peresmian fasilitas SPPG pesantren serta penandatanganan prasasti untuk 27 SPPG sebagai bentuk penguatan ekosistem pesantren.

Kegiatan ini menjadi wujud sinergi antara sektor keuangan syariah dan ekonomi riil dalam mendukung pengembangan ekosistem pesantren yang berdaya saing dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi pesantren dalam pembangunan ekonomi berbasis komunitas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Advertisement