Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Blokade Iran Dimulai, Sekutu AS Justru Pecah Barisan! Ada Apa?

Blokade Iran Dimulai, Sekutu AS Justru Pecah Barisan! Ada Apa? Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Warta Ekonomi, Jakarta -

Langkah Amerika Serikat memulai blokade laut terhadap Iran justru memicu retakan di antara sekutu Barat. Sejumlah negara Eropa memilih tidak terlibat, menandakan tidak solidnya dukungan terhadap strategi Washington.

Presiden Donald Trump disebut mendorong tekanan ekonomi sebagai cara utama mengakhiri konflik secara cepat. Pendekatan ini diyakini menjadi satu-satunya jalan untuk memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.

Melansir The Wall Street Journal, Trump menyampaikan pandangan tersebut dalam pertemuan tertutup bersama keluarga kerajaan Belanda. Ia menilai peningkatan tekanan ekonomi harus dilakukan secara maksimal untuk mencapai hasil diplomatik.

Namun, langkah sepihak Washington dalam menerapkan blokade laut tidak sepenuhnya mendapat dukungan internasional. Beberapa sekutu utama justru mengambil jarak dan enggan terlibat dalam kebijakan tersebut.

Belanda bersama negara-negara Eropa lainnya secara terbuka menolak ikut serta dalam blokade. Sikap ini mencerminkan kekhawatiran atas potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Penolakan juga datang dari Arab Saudi yang justru meminta Washington membatalkan rencana tersebut. Riyadh menilai langkah itu berisiko memicu respons agresif dari Iran melalui jaringan proksi di kawasan.

Kekhawatiran utama tertuju pada kemungkinan gangguan jalur pelayaran strategis seperti Laut Merah. Jika terjadi, dampaknya bisa meluas hingga mengganggu stabilitas perdagangan dan energi global.

Di tengah situasi tersebut, militer Amerika tetap melanjutkan operasi blokade melalui United States Central Command. Operasi ini mulai dijalankan setelah gagalnya perundingan langsung antara Washington dan Teheran.

Negosiasi sebelumnya berlangsung di Pakistan namun tidak menghasilkan kesepakatan. Kegagalan ini semakin mempersempit ruang diplomasi antara kedua negara.

Pemerintah AS menetapkan syarat ketat dalam setiap potensi kesepakatan baru. Iran diminta menghentikan pengayaan uranium setidaknya selama 20 tahun dan memindahkan seluruh stok keluar negeri.

Namun, Teheran menolak tuntutan tersebut dan hanya bersedia melakukan pembekuan selama lima tahun. Iran juga tetap bersikeras mempertahankan cadangan uranium di dalam wilayahnya.

Perbedaan tajam ini membuat negosiasi berada dalam kondisi buntu. Kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda kompromi dalam waktu dekat.

Di sisi lain, para analis memperingatkan bahwa dampak ekonomi dari blokade tidak akan terasa dalam waktu singkat. Iran diperkirakan masih mampu bertahan sebelum tekanan benar-benar memaksa perubahan sikap.

Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Lumpuhkan Perdagangan Iran, Trump Klaim Perang Hampir Usai

Wakil Presiden AS JD Vance disebut masih membuka peluang untuk melanjutkan negosiasi. Ia bahkan disiapkan kembali ke Pakistan jika terdapat sinyal kemajuan diplomatik.

Meski jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup, dinamika yang terjadi menunjukkan meningkatnya ketegangan global. Ketidaksepakatan di antara sekutu justru berpotensi melemahkan posisi Amerika dalam menekan Iran.

Situasi ini mencerminkan kompleksitas konflik yang tidak hanya melibatkan dua negara, tetapi juga kepentingan geopolitik yang lebih luas. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, kebijakan blokade justru berisiko memperpanjang ketidakstabilan global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement