Trump Paksa Dunia Berubah, Brasil Kritik Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat
Kredit Foto: Dok. BPMI
Brasil melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Hal ini menyusul operasi militer dari negara itu terhadap sejumlah negara seperti Iran dan Venezuela.
Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Menurutnya, pendekatan kebijakan luar negeri sang presiden mengandalkan ancaman.
Baca Juga: Amerika Serikat Tolak Usulan Rusia, Perang Iran Masih Akan Membara
Lula mengecam hal tersebut dan menegaskan bahwa para pemimpin dunia seharusnya mengedepankan rasa hormat, bukan ketakutan dalam hubungan internasional. Ia menyoroti bagaimana baru-baru ini ada ancaman kehancuran dari Iran oleh Amerika Serikat.
"Trump tidak berhak bangun di pagi hari dan mengancam sebuah negara," kata Lula.
Lula menilai kebijakan luar negeri sang presiden sebagai pendekatan yang keliru dan berbahaya, karena didasarkan pada asumsi bahwa kekuatan militer dan ekonomi yang dimiliki negara itu dapat menentukan aturan global. Ia menegaskan bahwa tidak ada negara yang berhak menakut-nakuti negara lain.
"Tidak ada yang berhak menakut-nakuti pihak lain. Sangat penting bagi negara-negara kuat untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menjaga perdamaian," ujarnya.
Adapun Lula menggambarkan dirinya sebagai pemimpin yang lebih memilih membangun hubungan berdasarkan rasa hormat dibandingkan rasa takut. Ia menilai pendekatan tersebut lebih efektif dalam menjaga stabilitas global.
Lula tak sendiri dalam mengkritik operasi militer dari Amerika Serikat. Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo juga turut melakukan hal serupa meski tak menyebutkan nama secara langsung dari Trump.
Paus Leo baru-baru ini melontarkan kritik keras terhadap para pemimpin dunia yang dinilai menghabiskan miliaran dolar untuk perang. Pernyataan ini muncul di tengah hujan kritikan dari Amerika Serikat.
Ia mengatakan bahwa dunia saat ini dirusak oleh segelintir tiran. Ia menyoroti ketimpangan antara belanja militer dan kebutuhan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa kehancuran bisa terjadi dalam sekejap, namun pemulihan membutuhkan waktu sangat lama.
“Para penguasa perang berpura-pura tidak tahu bahwa hanya butuh sesaat untuk menghancurkan, namun seringkali seumur hidup pun tidak cukup untuk membangun kembali. Mereka menutup mata terhadap fakta bahwa miliaran dolar dihabiskan untuk pembunuhan dan kehancuran, namun sumber daya yang dibutuhkan untuk penyembuhan, pendidikan dan pemulihan sama sekali tidak ditemukan,” kata Paus.
Paus juga mengkritik keras pemimpin yang menggunakan agama sebagai pembenaran perang. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk penyimpangan yang harus ditolak.
Paus menggambarkan kondisi global sebagai dunia yang sedang terbalik karena nilai-nilai spiritual disalahgunakan demi kepentingan seperti perang, dan kepentingan kekuasaan mengalahkan kemanusiaan.
Baca Juga: Piala Dunia Terancam, Isu Keamanan Jadi Perhatian di Amerika Serikat
“Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama tuhan itu sendiri untuk keuntungan militer, ekonomi, dan politik mereka sendiri, menyeret apa yang suci ke dalam kegelapan dan kekotoran. Ini adalah dunia yang terbalik, eksploitasi ciptaan tuhan yang harus dikecam dan ditolak oleh setiap hati nurani yang jujur,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement