Kredit Foto: Istimewa
Pemerintah menetapkan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) periode Maret 2026 sebesar US$ 102,26 per barel. Angka ini mengalami kenaikan tajam sebesar US$ 33,47 per barel dibandingkan posisi Februari yang hanya senilai US$ 68,79 per barel.
Lonjakan ini secara resmi telah melampaui asumsi makro APBN 2026 yang sebelumnya mematok harga minyak di level US$ 70 per barel. Selain itu, penetapan harga tersebut telah tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 149.K/MG.03/MEM.M/2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menjelaskan bahwa kenaikan signifikan ini dipicu oleh eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Terlebih lagi, konflik bersenjata tersebut berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok energi di pasar global secara masif.
Penutupan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menghambat distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia saat ini. Di samping itu, serangan militer terhadap berbagai fasilitas energi di kawasan Timur Tengah semakin memperburuk stabilitas produksi internasional.
Gangguan operasional dilaporkan terjadi pada kilang minyak di Arab Saudi serta penghentian sementara produksi LNG di Qatar. Selain itu, beberapa fasilitas strategis di Irak dan Uni Emirat Arab juga sempat menghentikan aktivitasnya akibat meluasnya konflik di kawasan Teluk.
Serangan terhadap kapal-kapal tanker di jalur pelayaran internasional turut memperkuat sentimen kenaikan harga di pasar dunia. Terlebih lagi, ketidakpastian keamanan ini memicu kekhawatiran para pelaku pasar terhadap keberlanjutan pasokan energi jangka panjang.
Selain ICP, harga minyak mentah utama lainnya seperti Brent juga meroket hingga menyentuh angka US$ 99,60 per barel pada periode yang sama. Di samping itu, harga Basket OPEC mencatatkan kenaikan paling signifikan hingga berada di level US$ 116,03 per barel.
Pemerintah berkomitmen untuk terus mencermati dinamika harga minyak dunia guna menjaga ketahanan energi di dalam negeri. Selain itu, berbagai langkah mitigasi sedang disiapkan untuk meminimalkan dampak gejolak harga global terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Baca Juga: Kompromi Iran-AS di Hormuz, Jalur Dibuka Harga Minyak Langsung Jatuh
Pemantauan terhadap perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah dilakukan secara intensif oleh kementerian terkait. Terlebih lagi, koordinasi lintas sektor diperkuat untuk memastikan kebutuhan energi bagi masyarakat dan industri tetap terpenuhi dengan baik.
Situasi pasar minyak dunia diperkirakan masih akan sangat dinamis selama ketegangan di kawasan produsen utama belum mereda. Di samping itu, penyesuaian strategi fiskal mungkin diperlukan guna merespons selisih harga yang cukup jauh dari target awal anggaran negara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait:
Advertisement