Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Cuan Jutaan Dolar di Celah Sempit Dekat Oman

Cuan Jutaan Dolar di Celah Sempit Dekat Oman Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penerapan blokade maritim oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, di perairan sekitar Selat Hormuz kini mengubah peta maritim di kawasan tersebut secara drastis.

Dalam beberapa hari terakhir, kapal-kapal militer AS yang bersiaga di Teluk Oman atau sebelah timur Selat Hormuz secara aktif mencegat kapal-kapal komersial yang memiliki afiliasi dengan Iran.

Sebaliknya, armada kapal yang terbukti tidak memiliki kaitan dengan Iran tetap diizinkan untuk melintasi blokade dan melanjutkan perjalanan menuju Samudra Hindia.

Sebelum konflik berkecamuk, Selat Hormuz merupakan salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia. Lebih dari 130 kapal komersial raksasa rutin membelah selat ini melalui dua jalur pelayaran utama setiap harinya.

Namun, situasi berbalik seratus delapan puluh derajat setelah perang pecah. Pihak Iran mulai menyerang armada-armada komersial, sehingga nyaris tidak ada kapal yang berani melewati Selat Hormuz, kecuali mereka yang secara khusus telah mendapatkan izin dari Teheran.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Meroket Imbas Blokade Selat Hormuz dan Buntunya Negosiasi AS-Iran

Kapal-kapal berizin ini pun diwajibkan menggunakan rute navigasi baru yang menyusuri pesisir wilayah Iran demi bisa mencapai Teluk Oman dan Samudra Hindia dengan aman.

Secara mengejutkan, strategi rute pesisir tersebut memungkinkan Iran untuk tetap mengekspor minyaknya ke pasar global dalam volume yang sama seperti kondisi sebelum perang.

"Dari jalur tersebut, Teheran terus meraup jutaan dolar yang sangat berharga di tengah kecamuk konflik," kata senior reporter The New York Times, Peter Elvis.

Fakta perekonomian inilah yang mendorong Trump untuk memutuskan mengambil perintah blokade. Langkah taktis ini bertujuan ganda, merebut kembali kendali Selat Hormuz dari tangan Iran sekaligus meningkatkan tekanan berlapis agar Teheran bersedia memberikan konsesi dalam perundingan-perundingan damai di masa mendatang.

Merespons manuver AS tersebut, Iran bereaksi sangat keras. Pada masa-masa awal pemberlakuan blokade, Teheran melontarkan ancaman pembalasan dengan menyatakan kesiapannya untuk menyerang kapal-kapal komersial di jalur air strategis lainnya, yang letaknya jauh melampaui wilayah Selat Hormuz.

Ancaman eskalasi militer ini menyisakan ketakutan dan dilema besar bagi industri logistik maritim. Banyak perusahaan pelayaran yang sangat menantikan armada mereka bisa kembali berlayar keluar dari Selat Hormuz untuk beroperasi kembali secara normal.

Namun, sebagian besar dari mereka masih terhambat oleh ketakutan akan potensi serangan dari pihak Iran jika nekat melintas.

Bagi armada-armada kapal komersial yang telanjur terjebak di dalam Teluk Persia dan tidak bisa menembus blokade Selat Hormuz, situasi saat ini berarti sebuah penantian panjang yang penuh dengan ketidakpastian.

"Mereka kini tidak memiliki banyak pilihan, kecuali mereka berani mengambil risiko fatal dengan memaksakan pelayaran," jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement