Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Melemah ke Rp17.127, Pelaku Usaha Masih Wait and See

Rupiah Melemah ke Rp17.127, Pelaku Usaha Masih Wait and See Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup di level Rp17.127 pada perdagangan, Selasa (14/4/2026). Mata uang Garuda melemah 22 poin dari sebelumnya berada di Rp17.105 per USD.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu oleh dunia usaha yang masih wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dan mandeknya negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. 

"Penurunan ekspektasi kegiatan bisnis dan stagnasi penjualan mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam mengambil keputusan ekspansi. Meski demikian, ekspansi bisnis dinilai tidak berhenti, tetapi mengalami penyesuaian strategi," kata Ibrahim kepada wartawan.

Ibrahim menyebut pelaku usaha cenderung menahan ekspansi besar yang bersifat padat modal, sambil fokus pada efisiensi dan optimalisasi operasional. Investasi juga mulai dialihkan ke sektor yang dinilai lebih resilien, seperti pangan, energi, dan digital. 

Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi, antara lain ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. 

"Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi," imbuh dia.

Dari sisi penjualan, kinerja masih cenderung stagnan dalam jangka pendek, namun berpotensi membaik pada semester II/2026 apabila tidak terjadi eskalasi lanjutan konflik global. Konsumsi domestik dinilai tetap menjadi penopang utama, meski daya beli masyarakat perlu dijaga. 

Sementara utuk mendorong ekspansi, kata Ibrahim, diperlukan kepastian dan stabilitas kebijakan, termasuk kebijakan yang konsisten, insentif fiskal, kemudahan investasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. 

"Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan deregulasi di sektor riil seperti logistik dan perizinan dinilai penting untuk memperkuat daya saing," ungkap dia.

Sementara dari sisi eksternal, pelemahan rupiah dipicu usai Militer AS berencana memblokade Selat Hormuz dan akan meluas ke timur hingga Teluk Oman dan Laut Arab, sementara data pelacakan kapal menunjukkan dua kapal berbalik arah di selat tersebut saat blokade mulai berlaku.

Baca Juga: BI Perkuat Intervensi untuk Jaga Stabilitas Rupiah

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.105, Dipicu Blokade AS ke Iran

Baca Juga: Gagalnya Diplomasi AS-Iran, Rupiah Bisa Jebol ke Rp17.400

"Sebagai tanggapan, Iran mengancam akan menargetkan pelabuhan di negara-negara yang berbatasan dengan Teluk setelah runtuhnya pembicaraan akhir pekan di Islamabad yang bertujuan untuk menyelesaikan krisis tersebut.

"Sumber yang mengetahui negosiasi tersebut mengatakan dialog antara Iran dan AS masih berlangsung, sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan upaya yang sedang berlangsung untuk meredakan ketegangan. Trump mengatakan pada hari Senin bahwa Iran ingin membuat kesepakatan," terang dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait:

Advertisement