Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Banyak Pihak Puji Sikap Politik China yang Main Halus di Tengah Konflik Iran-AS

Banyak Pihak Puji Sikap Politik China yang Main Halus di Tengah Konflik Iran-AS Kredit Foto: Reuters
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, China mengambil langkah diplomasi yang sangat pragmatis.

Beijing memanfaatkan kekuatan relasi ekonominya dengan berbagai pihak untuk mengamankan kepentingannya, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi fase pascaperang.

Mengutip laporan dari Al Jazeera, pendekatan pragmatis ini terlihat jelas saat Presiden China, Xi Jinping, menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz pekan ini.

Dalam percakapan telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), pada Senin (20/4), Xi menegaskan komitmen China untuk mendukung segala upaya pemulihan perdamaian melalui jalur politik dan diplomatik.

"Selat Hormuz harus mempertahankan pelayaran normal, karena ini melayani kepentingan bersama negara-negara di kawasan dan komunitas internasional," ujar Xi, sebagaimana dikutip dari rilis resmi transkrip percakapan tersebut.

Menariknya, rilis resmi Beijing itu sama sekali tidak menyebutkan secara spesifik pihak-pihak yang bertikai. Padahal, perseteruan AS dan Iran telah melumpuhkan jalur perairan strategis tersebut selama tujuh pekan.

Iran diketahui menutup selat itu untuk sebagian besar lalu lintas laut menyusul pecahnya perang pada 28 Februari, yang kemudian dibalas oleh AS dengan memblokade seluruh pelabuhan Iran pada 13 April.

Pernyataan Xi Jinping yang terukur ini sangat kontras dengan retorika Presiden AS Donald Trump. Pada hari yang sama, Trump sesumbar melalui media sosialnya dengan menyatakan, "Saya memenangkan Perang, DENGAN TELAK, semuanya berjalan sangat baik." Trump juga menegaskan bahwa blokade laut akan terus berlanjut hingga Washington mencapai "KESEPAKATAN" dengan Teheran.

Para analis menilai, situasi ini dimanfaatkan dengan cerdik oleh China untuk menempatkan diri sebagai negara adidaya yang lebih bertanggung jawab. Beijing dinilai lebih memilih bergerak tenang di belakang layar ketimbang tampil mencolok di garis depan.

"China meraup keuntungan bukan dengan melakukan manuver dramatis, melainkan dengan menunggu, melihat, dan memanfaatkan peluang yang muncul untuk memposisikan diri, sembari membiarkan pihak Amerika mengurus kekacauan tersebut," jelas Gedaliah Afterman, Kepala Program Kebijakan Asia-Israel di Abba Eban Institute for Diplomacy and Foreign Relations.

Keberhasilan Beijing memposisikan diri sebagai "suara akal sehat" tidak terlepas dari kebijakan luar negerinya yang memegang teguh prinsip non-intervensi urusan dalam negeri negara lain. Selain itu, China memiliki rekam jejak hubungan kerja sama yang kuat dengan seluruh pihak yang terlibat dalam konflik ini.

Secara ekonomi, China adalah mitra dagang terbesar Iran yang menyerap hingga 90 persen ekspor minyak negara tersebut. Pada 2021, kedua negara bahkan telah menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif berdurasi 25 tahun.

Di saat bersamaan, Beijing juga sukses merawat hubungan harmonis dengan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab selama satu dekade terakhir. Posisi China juga tetap kokoh sebagai mitra dagang utama bagi AS maupun Israel.

"China menjaga hubungan baik dengan AS, Israel, Iran, dan negara-negara Arab di Teluk. Semua negara itu adalah teman kami, meskipun di antara mereka saling bermusuhan," pungkas Ma Xiaolin, Dekan Mediterranean Rim Institute di Zhejiang International Studies University.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Advertisement