Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Terpecah, Amerika Serikat Bilang Ada Konflik Kaum Pragmatis dan Kelompok Garis Keras di Teheran

Iran Terpecah, Amerika Serikat Bilang Ada Konflik Kaum Pragmatis dan Kelompok Garis Keras di Teheran Kredit Foto: Reuters/Morteza Nikoubazl
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menginginkan respons yang “bersatu” dari Iran. Hal ini terkait dengan proposalnya untuk mengakhiri konflik kedua negara yang berlarut-larut di Timur Tengah.

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan masih ada instabilitas dalam internal kabinet dari Iran. Menurunut, hal tersebut membuat kesepakatan damai sulit untuk dicapai karena adanya perbedaan pendapat dari internal di Teheran.

Baca Juga: Peringatan ke Amerika Serikat, Ini Cara Garda Revolusi Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz

"Ini adalah pertempuran antara kaum pragmatis dan garis keras dalam wilayah mereka saat ini, dan kami menginginkan respons yang bersatu," kata Leavitt.

Leavitt juga menegaskan bahwa pihaknya belum menetapkan batas waktu untuk mengakhiri perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan sebelumnya. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk fleksibilitas dari Washington.

"Trump dengan murah hati menawarkan sedikit fleksibilitas kepada rezim yang telah sepenuhnya tercoreng," ujarnya.

Leavitt sendiri menegaskan salah satu tuntutan utama dari Amerika Serikat. Iran dituntut untuk menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada Washington. Isu ini menjadi salah satu poin paling krusial dalam negosiasi.

Sebelumnya, dunia dikecewakan oleh gagalnya negosiasi damai dari Iran dan Amerika Serikat di Islamabad, Pakistan. Hal tersebut menambah panjang ketidakpastian soal perang keduanya di Timur Tengah.

Menurut Washington, Teheran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.

Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.

Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.

Baca Juga: Dibayangi China, Sekutu Amerika Serikat Dituntut Bayar Lebih Mahal Demi Impor Mineral Kritis

Teheran mengatakan bahwa pihaknya meragukan komitmen damai dari Amerika Serikat. Pihaknya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar