- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
PT Timah (TINS) Bukukan Laba Bersih Rp 1,31 T di 2025, Lampaui Target 119%
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT TIMAH (Persero) Tbk (IDX: TINS) berhasil mencatatkan kinerja keuangan positif sepanjang tahun buku 2025, dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun.
Pencapaian laba tersebut melampaui target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025, yakni mencapai 119%.
Peningkatan laba bersih ini sejalan dengan kenaikan pendapatan perseroan yang mencapai Rp 11,55 triliun, tumbuh 6,41% dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp10,86 triliun.
Pertumbuhan performa finansial TINS didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata logam timah global, meskipun secara operasional volume produksi mengalami tekanan.
Direktur Utama PT TIMAH (Persero) Tbk Restu Widiyantoro menyatakan, efisiensi dan penguatan tata kelola menjadi kunci utama keberhasilan perseroan, di tengah dinamika industri pertambangan.
"Pada tahun 2025, Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,31 triliun atau mencapai 119% dari target yang telah ditetapkan dalam RKAP 2025."
"Perseroan fokus ke penguatan tata kelola pertimahan, optimalisasi kinerja operasi, pemasaran, dan keuangan," ujar Restu Widiyantoro dalam keterangan resminya, Kamis (23/4/2026).
Dinamika Harga dan Operasional
Berdasarkan laporan keuangan auditan 2025, harga rata-rata logam timah LME berada di posisi USD 34.119,96 per ton, naik 13% dari tahun sebelumnya.
Lonjakan harga ini dipicu oleh tingginya permintaan sektor semikonduktor, panel fotovoltaik, dan teknologi transisi energi.
Namun dari sisi operasional, TINS mencatatkan penurunan produksi bijih timah sebesar 4% menjadi 18.635 ton Sn.
Penurunan ini dipicu oleh maraknya aktivitas penambangan ilegal di wilayah pesisir, serta adanya kendala pembebasan lahan baru.
Volume penjualan logam timah juga terkoreksi 5% menjadi 16.634 metrik ton.
Meski volume turun, kenaikan harga jual rata-rata ke level USD 35.240 per metrik ton mampu mengompensasi kinerja pendapatan.
Hingga akhir 2025, total aset TINS tercatat naik 6,75% menjadi Rp13,64 triliun.
Perseroan juga menunjukkan struktur permodalan yang sehat dengan Debt to Equity Ratio (DER) di level 18,7%, dan Current Ratio sebesar 242,8%.
Efisiensi biaya dilakukan melalui penurunan fixed cost dan strategi buyback atas Medium Term Notes (MTN) untuk menekan beban bunga.
Prospek dan Strategi 2026
Menatap tahun 2026, PT Timah bersiap melakukan pemulihan kapasitas produksi secara agresif.
Perseroan memproyeksikan harga timah dunia masih akan tetap kuat di kisaran USD 33.500 hingga USD 48.750 per ton, menurut data Bloomberg.
Restu menjelaskan, fokus perseroan ke depan adalah memperkuat nilai tambah dan mengamankan pasokan dari tambang ilegal.
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh dari Pesisir, Jejak Amran dan PT Timah Gerakkan Ekonomi Sawang Laut
"Pada tahun 2026, Perseroan akan berfokus pada pemulihan kapasitas produksi secara agresif dan penguatan nilai tambah melalui hilirisasi."
"Sebagai bagian dari Holding Pertambangan Indonesia, Perseroan memposisikan diri untuk memanfaatkan momentum harga timah global yang tinggi, dan penertiban tambang ilegal di Indonesia yang cukup mempengaruhi aliran suplai logam timah secara global," tutur Restu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: