Blokade Selat Hormuz Jadi Penghalang Negosiasi Iran dan Amerika Serikat
Kredit Foto: Istimewa
Iran menyatakan bahwa pihaknya terbuka untuk menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi dengan Amerika Serikat. Namun pihaknya menegaskan bahwa hal itu harus dibarengi dengan komitmen serius dari Washington.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan negaranya selalu terbuka untuk menyelesaikan konflik melalui dialog dan kesepakatan. Ia menegaskan pihaknya akan terus menempuh jalur diplomasi dalam menghadapi ketegangan yang berlangsung.
Baca Juga: Zelensky Bimbang, Perang Iran Bisa Ganggu Pasokan Senjata Amerika Serikat ke Ukraina
"Iran selalu menyambut penyelesaian masalah melalui dialog dan kesepakatan, dan akan terus melakukannya," kata Pezeshkian dalam unggahannya di X.
Namun Pezeshkian menegaskan bahwa hal tersebut nampaknya sulit untuk direalisasikan mengingat masih adanya sikap permusuhan dari Amerika Serikat. Salah satu yang disorotinya adalah blokade yang dilakukan di Selat Hormuz.
Pezeshkian menilai pelanggaran komitmen, blokade dan ancaman menjadi hambatan utama dalam negosiasi yang tulus. Menurutnya, Amerika Serikat sering kali memiliki perbedaan antara pernyataan dan tindakannya.
"Dunia melihat retorika hipokrit yang tak ada habisnya dan kontradiksi antara klaim dan tindakan dari Amerika Serikat," ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trumpmemberikan tekanan dengan menetapkan tenggat waktu tiga hingga lima hari untuk menyatukan posisi dan mencapai kesepakatan dengan Iran.
Trump juga menyebut kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan damai antara kedua negara dalam waktu dekat, bahkan secepatnya pada Jumat. Hal ini membuka peluang baru bagi kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Delegasi dari kedua negara sebelumnya telah menggelar putaran pertama negosiasi pada 11–12 April di Islamabad, Pakistan. Namun, pembicaraan tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Adapun Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan masih ada instabilitas dalam internal kabinet dari Iran. Menurutnya, hal tersebut membuat kesepakatan damai sulit untuk dicapai karena adanya perbedaan pendapat dari internal di Teheran.
"Ini adalah pertempuran antara kaum pragmatis dan garis keras dalam wilayah mereka saat ini, dan kami menginginkan respons yang bersatu," kata Leavitt.
Leavitt juga menegaskan bahwa pihaknya belum menetapkan batas waktu untuk mengakhiri perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan sebelumnya. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk fleksibilitas dari Washington.
Baca Juga: Saat Blokade Iran, Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat Mendadak Dipecat Trump
"Trump dengan murah hati menawarkan sedikit fleksibilitas kepada rezim yang telah sepenuhnya tercoreng," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: