Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Entah reaksi apa yang harus diutarakan Liam Rosenior, sedih atau gembira usai resmi dipecat dari kursi pelatih Chelsea pada tengah malam waktu setempat.
Setelah rentetan hasil buruk, manajer asal Inggris didepak, meski pemecatan tersebut justru membuatnya meraih keuntungan finansial dalam jumlah besar.
Keputusan manajemen The Blues mengakhiri kerja sama dengan Rosenior dinilai tak terelakkan. Dalam kompetisi Premier League musim 2025/2026, performa Chelsea di bawah arahannya terpuruk.
Klub yang bermarkas di Stamford Bridge itu menelan lima kekalahan beruntun. Lebih buruk lagi, dalam periode tersebut, lini serang Chelsea gagal mencetak satu gol pun. Catatan ini membuat manajemen kehilangan kesabaran dan mengambil langkah tegas dengan pemecatan.
Di balik keputusan tersebut, Chelsea harus menanggung konsekuensi finansial yang tidak kecil. Pemecatan Rosenior justru menjadi beban besar bagi klub asal London itu.
Saat direkrut empat bulan lalu, manajemen mengikat Rosenior dengan kontrak jangka panjang hingga 2032. Dengan pemutusan kerja sepihak, klub wajib menebus sisa kontrak tersebut.
Berdasarkan klausul yang berlaku, Chelsea harus membayar pesangon sebesar 24 juta poundsterling kepada Rosenior, atau setara sekitar Rp558 miliar.
Situasi ini menjadi ironi tersendiri. Dalam waktu singkat, tanpa kontribusi signifikan di lapangan, Rosenior justru meninggalkan klub dengan membawa kompensasi fantastis.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: