China Sebut Konflik Iran-Amerika Serikat dalam Masa Kritis
Kredit Foto: Reuters/Aly Song
China menyatakan dukungan terhadap upaya politik dan diplomatik untuk menyelesaikan konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran. Beijing menekankan pentingnya mencapai gencatan senjata penuh dan berkelanjutan guna menjaga stabilitas di Timur Tengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun menyatakan bahwa situasi saat ini berada pada tahap krusial yang akan menentukan apakah konflik dapat diakhiri.
Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Jadi Penghalang Negosiasi Iran dan Amerika Serikat
"Situasi saat ini berada pada tahap kritis apakah konflik dapat berakhir atau tidak. Prioritas mendesak adalah mencegah dengan segala cara terjadinya kembali pertempuran," kata Guo.
Guo menambahkan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan komunitas internasional untuk memainkan peran konstruktif dalam penyelesaian konflik. Ia menyebut pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip empat poin yang diusung Beijing.
China menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah. Wilayah tersebut diketahui memiliki peran strategis dalam ekonomi global, khususnya terkait energi dan jalur perdagangan.
Di tengah ketegangan yang masih tinggi, pihaknya menilai jalur diplomasi sebagai satu-satunya cara untuk mencapai solusi jangka panjang. Beijing mendorong semua pihak untuk menahan diri dan melanjutkan dialog.
Terbaru, Iran menyatakan bahwa pihaknya terbuka untuk menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi dengan Amerika Serikat. Namun pihaknya menegaskan bahwa hal itu harus dibarengi dengan komitmen serius dari Washington.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan negaranya selalu terbuka untuk menyelesaikan konflik melalui dialog dan kesepakatan. Ia menegaskan pihaknya akan terus menempuh jalur diplomasi dalam menghadapi ketegangan yang berlangsung.
"Iran selalu menyambut penyelesaian masalah melalui dialog dan kesepakatan, dan akan terus melakukannya," kata Pezeshkian dalam unggahannya di X.
Namun Pezeshkian menegaskan bahwa hal tersebut nampaknya sulit untuk direalisasikan mengingat masih adanya sikap permusuhan dari Amerika Serikat. Salah satu yang disorotinya adalah blokade yang dilakukan di Selat Hormuz.
"Dunia melihat retorika hipokrit yang tak ada habisnya dan kontradiksi antara klaim dan tindakan dari Amerika Serikat," ujarnya.
Adapun Presiden Amerika Serikat, Donald Trumpmemberikan tekanan dengan menetapkan tenggat waktu tiga hingga lima hari untuk menyatukan posisi dan mencapai kesepakatan dengan Iran.
Trump juga menyebut kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan damai antara kedua negara dalam waktu dekat, bahkan secepatnya pada Jumat. Hal ini membuka peluang baru bagi kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan.
Perkembangan situasi ini terus menjadi perhatian global, dengan berbagai negara mendorong tercapainya kesepakatan damai guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Delegasi dari kedua negara sebelumnya telah menggelar putaran pertama negosiasi pada 11–12 April di Islamabad, Pakistan. Namun, pembicaraan tersebut belum menghasilkan kesepakatan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: