Kredit Foto: Istimewa
Peluncuran buku Kampus Meretas Batas di kampus President University pada Rabu 22 April 2026 bukan sekadar seremoni akademik biasa. Pasalnya di tengah rangkaian Dies Natalis ke-25 kampus tersebut, momen peluncuran itu justru jadi cermin panjang atas visi, keberanian, dan eksperimen pendidikan yang sudah berjalan lebih dari dua dekade.
Dari gagasan yang dulu terdengar utopis, kini President University berhasil berdiri sebagai institusi yang konsisten mencetak sumber daya berstandar global. Menurut pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono, ide mendirikan universitas internasional muncul dari keresahan sederhana di tahnn 1994.
Baca Juga: Prof. Didik J Rachbini: Perlu Keadilan Ekosistem Pendidikan Tinggi
Dimana didalam kawasan industri yang dibesutnya yakni kawasan industri Jababeka di Cikarang, perusahaan multinasional yang ada membutuhkan tenaga kerja yang terampil. Namun saat itu kondisi pendidikan tinggi di Indonesia belum benar-benar mampu menjawab tuntutan dunia industri tersebut
“Berangkat dari kebutuhan kawasan industri akan tenaga kerja terampil, saya menyadari bahwa pendidikan tinggi di Indonesia saat itu belum sepenuhnya menjawab tuntutan dunia industri,” ujar Darmono dalam sambutannya di Cikarang, Rabu, 23 April 2026.
Menurutnya, inspirasi awal sempat datang dari model politeknik di Singapura yang dibangun lewat kolaborasi internasional dengan Jerman, Prancis, dan Jepang. Namun keterbatasan sumber daya memaksa Darmono mencari jalan lain. Pilihannya, mendirikan universitas dengan jiwa vokasi.
Bukan sekadar memberi gelar akademik, tapi menanamkan keterampilan praktis dan konsep economic survival sejak tahun pertama lewat program magang. Perjalanan jauh dari kata mulus. Krisis moneter 1998 mengguncang fondasi ekonomi dan menghentikan arus investasi asing. Namun, menurut Darmono, di tengah ketidakpastian tersebut muncul secercah peluang.
“Saya berpikir, jika industri belum siap datang, maka pendidikanlah yang harus lebih dulu bergerak,” katanya.
Dari keyakinan itulah President University tumbuh, dengan ambisi menjadi institusi berkelas dunia. Bukan hanya lewat nama, tapi lewat komposisi mahasiswa dan dosen internasional yang nyata.
"Tanpa memahami sejarah, mustahil merumuskan masa depan. Dan membaca 18 bab buku ini, saya merasa terharu. Betapa tidak, mimpi saya dan kawan-kawan mendirikan institusi pendidikan tinggi vang lulusannya memiliki economic survival dan good character mampu ditangkap dengan baik oleh Pak Satrijo, terasa benar. Pak Satrijo terlibat secara emosional ketika menulis buku ini," pungkas Darmono.
Sang penulis buku, Satrijo Tanudjojo dari kota Paris, dalam jarak yang jauh namun dengan kedekatan gagasan menyatakan bahwa ketertarikan menulis buku bukan muncul tiba-tiba, melainkan berakar dari kegelisahan intelektual yang ia tuangkan sejak awal dalam bukunya tentang pendidikan tinggi di Indonesia yang masih bergulat dengan realitas dunia kerja.
“Memahami sejarah sebuah organisasi berarti memahami nilai, keputusan, dan perjuangan yang membentuk identitasnya, dan dari situlah masa depan bisa diarahkan. Dari titik itulah buku Kampus Meretas Batas lahir, bukan sekadar dokumentasi, tetapi sebagai upaya membangun konteks," ungkap Satrijo.
Dalam bukunya, Ia juga mengangkat satu hal yang menurutnya “mengganggu sekaligus menggugah”: sistem pendidikan tinggi Indonesia yang cenderung memakan waktu lebih lama dari yang dirancang. Baginya, keberanian itu bukan sekadar efisiensi, melainkan filosofi—sebuah sikap untuk berbeda.
“Berani untuk berbeda, berani untuk menembus batas—itulah semangat yang ingin saya tangkap," kata sang penulis yang hadir secara daring.
Prof. Dr. M. Syafi'i Anwar, Dekan Faculty of Social Science and Education President Unuversity menilai kekuatan utama buku ini ada pada kemampuannya menggambarkan universitas bukan hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi sebagai entitas pembentuk karakter.
“Narasi dalam buku ini berhasil menampilkan keunikan dan keunggulan komparatif President University sebagai universitas internasional yang berakar di Indonesia,” kata Syafi'i.
Menurutnya,, buku ini ebih dari sekadar dokumentasi, dimana Kampus Meretas Batas membuka ruang ekspansi intelektual lintas bahasa dan budaya.
"Rencana penerjemahan ke bahasa Mandarin jadi bukti bahwa kisah ini tak hanya relevan secara lokal, tapi juga punya daya tarik global—sejalan dengan visi universitas itu sendiri," ujar Syafi'i.
"Pada akhirnya, buku ini diposisikan sebagai “kompas sejarah” bagi mahasiswa, dosen, dan alumni. Seperti ditekankan Darmono, tanpa memahami sejarah, mustahil merumuskan masa depan. Lewat Kampus Meretas Batas, President University tak hanya merayakan masa lalu, tapi menegaskan komitmen untuk terus melampaui batas—dalam pendidikan, inovasi, maupun peran globalnya," tutup Syafi'i.
Perlu diketahui, President University merupakan universitas swasta terakreditasi unggul dengan lingkungan akademik internasional. Hal itu tercermin dari penerapan kurikulum dan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar sepenuhnya.
Baca Juga: Kemendikdasmen Dorong Generasi Kuat Lewat Pendidikan Bermutu dan Nilai Toleransi
Hingga saat ini, President University berhasil mencatatkan diri sebagai kampus swasta dengan junlah mahasiswa asing terbanyak di Indonesia yang berasal lebih dari 50 negara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: