Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Emiten Sawit DSNG Raih Pendapatan Rp2,9 Triliun di Q1 2026, Laba Naik 15%

Emiten Sawit DSNG Raih Pendapatan Rp2,9 Triliun di Q1 2026, Laba Naik 15% Kredit Foto: Siaran Pers/DSNG
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membuka tahun 2026 dengan catatan kinerja yang solid. Sepanjang kuartal I 2026, Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp2,9 triliun atau tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sejalan dengan itu, laba juga meningkat 15% YoY menjadi Rp421 miliar.

Di balik pertumbuhan tersebut, segmen kelapa sawit tetap menjadi tulang punggung utama pendapatan DSNG. Direktur Utama DSNG, Andrianto Oetomo, mengungkapkan bahwa penjualan CPO naik cukup signifikan sebesar 18%. Namun, kenaikan volume ini diiringi penurunan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sekitar 3% pada kuartal pertama 2026. Meski begitu, kontribusi segmen sawit tetap mampu menjaga kinerja Perseroan tetap positif.

"Perseroan menyiapkan berbagai langkah startegis dan penuh kehati-hatian, termasuk program replanting untuk menjaga produktivitas kebun. Hingga saat ini, realisasi replanting mencapai sekitar 5.000an hektar," jelas Andrianto.

Dari sisi operasional, DSNG mencatatkan produksi tandan buah segar (TBS) sebesar 492 ribu ton, naik 2,7% YoY. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan produksi dari kebun plasma sebesar 6,2% YoY, sementara kebun inti tumbuh 1,8% YoY.

Sejalan dengan itu, produksi CPO meningkat 2,1% menjadi 141 ribu ton. Produk turunan lainnya juga mengalami kenaikan, yakni Palm Kernel (PK) sebesar 27 ribu ton atau naik 2,9% YoY, serta Palm Kernel Oil (PKO) yang tumbuh 5,7% YoY menjadi 8,5 ribu ton.

Efisiensi operasional turut tercermin dari Oil Extraction Rate (OER) yang mencapai 23,32% serta tingkat Free Fatty Acid (FFA) yang terjaga di kisaran 3%.

Meski demikian, peningkatan volume penjualan turut mendorong beban pokok penjualan naik 10% YoY menjadi Rp 2 triliun. Kabar baiknya, strategi deleveraging yang dijalankan Perseroan berhasil menekan biaya bunga pinjaman, sehingga berdampak positif terhadap peningkatan laba.

Di sisi lain, segmen industri kayu masih menghadapi tekanan dari pasar global. Permintaan produk panel dan engineered flooring, terutama yang memiliki eksposur tinggi ke Amerika Serikat, masih melemah.

Ketidakpastian terkait kebijakan serta administrasi tarif di Negeri Paman Sam turut membuat pembeli lebih berhati-hati dan menunda keputusan transaksi.

Kondisi ini tercermin dari penjualan panel kayu yang tercatat sebesar 26 ribu m3, sementara engineered flooring mencapai 56 ribu m2. Keduanya mengalami penurunan volume masing-masing sebesar 11,5% dan 63,2% YoY.

Baca Juga: Emiten Sawit TP Rachmat (DSNG) Panen Laba Rp1,8 Triliun di 2025, Melonjak 60%

Baca Juga: Izin Usaha Dicopot, Toba Pulp Lestari (INRU) Bakal Lakukan PHK Karyawan

Sementara itu, segmen energi terbarukan juga belum sepenuhnya pulih. Pendapatan dari lini ini tercatat sebesar Rp40,2 miliar atau turun 8,4% YoY. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya permintaan biomassa di Jepang, yang berdampak pada turunnya volume ekspor cangkang inti sawit (Palm Kernel Shell/PKS).

Hingga akhir periode, tepatnya per 31 Maret 2026, total aset DSNG tercatat sebesar Rp17,7 triliun, naik tipis 0,8% YoY. Dari sisi struktur keuangan, liabilitas berada di level Rp5,7 triliun dan ekuitas mencapai Rp12 triliun, mencerminkan fundamental Perseroan yang tetap terjaga di tengah dinamika pasar global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri