- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Jurus India Tekan Impor LPG: Hemat Rp64 Triliun Lewat Blending DME, RI Bisa Contek?
Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Indonesia tengah berupaya keras mencari solusi untuk menekan ketergantungan pada impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang terus membengkak. Salah satu langkah yang patut dicontoh adalah kebijakan India yang memproyeksikan penghematan devisa hingga Rp64 triliun (USD 4 miliar) per tahun melalui program pencampuran (blending) DME ke dalam tabung gas masyarakat.
Berdasarkan data laporan pasar energi global, pemerintah India melalui Bureau of Indian Standards (BIS) telah resmi merilis standar teknis yang mengizinkan pencampuran Dimethyl Ether (DME) hingga 20 persen ke dalam LPG murni untuk periode 2024-2026.
Langkah ini diprediksi mampu memangkas impor LPG India sebesar 6,3 juta ton per tahun pada April 2026. Pencapaian ini menjadi sinyal kuat bagi Indonesia, yang saat ini juga menghadapi tantangan serupa dengan angka impor LPG yang telah menembus 7 juta ton per tahun.
Solusi Tanpa Ganti Kompor Keunggulan utama model India adalah penerapan DME sebagai drop-in fuel. Melalui riset mendalam, otoritas India memastikan bahwa campuran DME hingga level tertentu (8% hingga 20%) dapat langsung digunakan pada kompor gas dan regulator standar rumah tangga tanpa perlu modifikasi alat sedikit pun.
"Pola konsumsi ini dirancang agar masyarakat tidak terbebani biaya tambahan untuk mengganti peralatan. Transisi energi terjadi secara transparan di mana end-user tetap menggunakan tabung gas yang sama, namun dengan komposisi yang lebih efisien bagi kas negara," tulis laporan tersebut.
Baca Juga: Batu Bara jadi DME Segera Groundbreaking, INDEF Wanti-wanti Jangan Sampai BUMN Jadi Korban
Teknologi Lokal dan Desentralisasi Selain regulasi, India memperkuat hulu dengan inovasi teknologi domestik. Melalui Council of Scientific and Industrial Research–National Chemical Laboratory (CSIR-NCL), India berhasil menciptakan teknologi katalis lokal yang mampu memproduksi DME dari batu bara pada tekanan rendah (10 bar).
Teknologi ini memungkinkan pembangunan pabrik DME skala menengah atau "pabrik mini" di dekat sumber bahan baku secara terdesentralisasi. Strategi ini dianggap sangat cocok untuk negara dengan wilayah luas, karena mengurangi biaya logistik distribusi yang mahal.
Relevansi Bagi Indonesia Indonesia memiliki potensi besar untuk mengikuti jejak India melalui hilirisasi batu bara. Dengan cadangan batu bara yang melimpah, konversi menjadi DME melalui proses gasifikasi dapat menjadi kunci kemandirian energi nasional.
Baca Juga: Antisipasi Krisis Keamanan Energi, BIO FRIENDS Inc. Percepat Bisnis DME dan Biofuel di Indonesia
Selain untuk memasak, DME di India juga mulai diadopsi secara masif untuk sektor transportasi berat (truk dan bus) serta traktor pertanian karena memiliki nilai cetane tinggi dan pembakaran yang lebih bersih dibandingkan diesel murni.
Keberhasilan India dalam mengintegrasikan DME ke dalam jaringan distribusi LPG eksisting membuktikan bahwa transisi energi tidak harus selalu membangun infrastruktur dari nol, melainkan mengoptimalkan jalur distribusi yang sudah ada untuk menekan defisit neraca perdagangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: