Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Padahal Penguasa, Partainya Narendra Modi Kalah Popular Lawan Partai Kecoa di India

Padahal Penguasa, Partainya Narendra Modi Kalah Popular Lawan Partai Kecoa di India Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gerakan satir Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoa mendadak menghebohkan India setelah popularitasnya di media sosial melampaui partai penguasa Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.

Dalam hitungan hari, gerakan bernuansa meme politik itu berhasil mengumpulkan jutaan pengikut dan menjadi simbol perlawanan generasi muda India terhadap situasi politik yang dinilai tidak mewakili mereka.

Baca Juga: Rupiah Akan Kembali Balik Menyentuh Rp15.000/Dolar AS, Kata Purbaya: Saya Masih Senyum

Pada Kamis (21/5), akun Instagram resmi Partai Kecoa tercatat melampaui 10 juta pengikut. Jumlah itu lebih besar dibanding akun resmi BJP yang memiliki sekitar 8,7 juta pengikut.

Padahal, BJP selama ini dikenal sebagai salah satu partai politik terbesar di dunia berdasarkan jumlah anggota.

Popularitas CJP melonjak setelah munculnya tagar #MainBhiCockroach atau “Saya juga kecoa” di media sosial India.

Gerakan tersebut lahir usai kontroversi komentar Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang diduga membandingkan anak muda pengangguran dengan kecoa dan parasit.

Partai Kecoa kemudian memanfaatkan kemarahan publik itu menjadi gerakan satir politik yang dekat dengan budaya internet generasi muda.

Berbagai relawan muda bahkan mulai turun ke jalan mengenakan kostum kecoa dalam kegiatan bersih-bersih dan aksi protes sebagai bentuk sindiran terhadap label yang dilekatkan kepada pengangguran.

Selain viral di Instagram, akun Partai Kecoa di platform X juga sempat mengumpulkan lebih dari 200 ribu pengikut sebelum akhirnya tidak dapat diakses di India.

Pengguna yang mencoba membuka akun tersebut mendapat pemberitahuan bahwa akun itu ditahan “sebagai tanggapan atas permintaan hukum”.

Meski begitu, momentum gerakan ini terus berkembang dan mendapat dukungan dari sejumlah tokoh oposisi India seperti Mahua Moitra, Kirti Azad, hingga pengacara senior Prashant Bhushan.

Bagi pendukungnya, Partai Kecoa dianggap sebagai “angin segar” dalam politik India yang selama ini dinilai terlalu kaku dan tidak ramah terhadap perbedaan pendapat.

Namun, para kritikus menilai gerakan itu hanya teater politik digital yang sengaja dikemas untuk kepentingan oposisi.

Mereka menyoroti latar belakang pendirinya, Abhijeet Dipke, yang pernah bekerja untuk Aam Aadmi Party (AAP).

Terlepas dari kritik tersebut, gerakan Partai Kecoa dianggap berhasil menyuarakan keresahan generasi muda soal pengangguran, biaya hidup, ketimpangan sosial, dan keterasingan politik.

“Anak muda sudah muak dengan sistem politik saat ini, dan lebih banyak organisasi anak muda akan bermunculan,” kata Dipke.

Fenomena ini juga mencerminkan perubahan cara anak muda India mengekspresikan frustrasi politik. Jika di masa lalu kemarahan politik melahirkan manifesto dan demonstrasi besar, kini generasi muda menggunakan meme, satire, dan budaya internet sebagai alat politik baru.

Baca Juga: Restoran Legendaris Gado-Gado Boplo Buka Lowongan Kerja, Terbuka untuk Lulusan SMA/SMK

Banyak pihak menilai keberhasilan Partai Kecoa bukan sekadar soal humor, melainkan karena gerakan itu berhasil membuat sebagian anak muda India merasa terwakili di tengah ketidakpuasan terhadap sistem politik tradisional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: