Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Gerakan Politik Satir Guncang Kekuasaan Narendra Modi, Siapa Pembuat Partai Kecoa India?

Gerakan Politik Satir Guncang Kekuasaan Narendra Modi, Siapa Pembuat Partai Kecoa India? Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Gerakan satir politik bernama Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoa mendadak viral di India dan menarik jutaan pengikut di media sosial hanya dalam hitungan hari. Di balik kemunculan gerakan tersebut, muncul nama Abhijeet Dipke, seorang ahli strategi komunikasi politik sekaligus mahasiswa di Boston University.

Partai Kecoa muncul setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, memicu kontroversi usai diduga membandingkan anak muda pengangguran dengan kecoa dan parasit dalam sebuah sidang pekan lalu.

Baca Juga: Efek Serangan Amerika, Kuota Internet 50GB Dibanderol Rp195 Ribu di Iran

Meski Surya Kant kemudian mengklarifikasi bahwa pernyataannya merujuk pada orang-orang dengan “gelar palsu dan tidak sah”, komentar itu telanjur menyebar luas di media sosial dan memicu kemarahan publik, terutama generasi muda India.

Dari kontroversi tersebut lahirlah Cockroach Janta Party, sebuah gerakan satir politik daring yang namanya merupakan plesetan dari Bharatiya Janata Party (BJP), partai penguasa pimpinan Perdana Menteri India Narendra Modi.

CJP bukan partai politik resmi. Gerakan ini lebih menyerupai komunitas digital bernuansa satire dengan syarat keanggotaan yang sengaja dibuat jenaka, seperti “menganggur”, “malas”, sering menghabiskan waktu di internet, hingga memiliki “kemampuan mengeluh secara profesional”.

Abhijeet Dipke mengatakan ide pembentukan Partai Kecoa awalnya hanya sekadar lelucon di internet.

“Saya pikir kita semua bisa berkumpul, mungkin memulai sebuah platform,” kata Dipke kepada BBC Marathi.

Sebelum pindah ke Amerika Serikat, Dipke diketahui pernah bekerja untuk Aam Aadmi Party (AAP), partai politik India yang lahir dari gerakan antikorupsi dan dikenal aktif memanfaatkan media sosial.

Namun, Dipke mengaku tidak menyangka gerakan tersebut berkembang sangat cepat. Dalam beberapa hari saja, CJP berhasil menarik puluhan ribu pendaftar melalui formulir Google dan memicu tagar #MainBhiCockroach atau “Saya juga kecoa”.

Gerakan itu juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh oposisi India seperti Mahua Moitra, Kirti Azad, hingga pengacara senior Prashant Bhushan.

Meski demikian, sebagian pihak menilai Partai Kecoa bukan gerakan spontan, melainkan bagian dari strategi politik digital oposisi. Kritikus menyoroti latar belakang Dipke yang pernah bekerja di AAP sebagai alasan munculnya kecurigaan tersebut.

Terlepas dari kontroversinya, Partai Kecoa kini menjadi simbol kekecewaan generasi muda India terhadap sistem politik yang dinilai tidak lagi mewakili mereka.

“Orang-orang frustrasi karena mereka tidak merasa didengar atau terwakili,” ujar Dipke.

Ia juga menilai generasi muda India mulai meninggalkan partai politik tradisional dan mencari bentuk baru untuk menyuarakan keresahan mereka.

“Gen Z telah menyerah pada partai politik tradisional dan ingin menciptakan wadah politiknya sendiri dalam bahasa yang mereka pahami,” katanya.

Dipke bahkan meyakini kemunculan Partai Kecoa baru awal dari gelombang gerakan politik baru di kalangan anak muda India.

Baca Juga: Berani Buat Taruhan Soal Lengsernya Presiden Prabowo, Ternyata Ini Profil Situs Polymarket

“Saya pikir CJP baru permulaan. Anak muda sudah muak dengan sistem politik saat ini, dan lebih banyak organisasi anak muda akan bermunculan,” ujarnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: