Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Trump Klaim Iran Kolaps: Amerika Serikat Diminta Stop Blokade Selat Hormuz

Trump Klaim Iran Kolaps: Amerika Serikat Diminta Stop Blokade Selat Hormuz Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat kembali buka suara terkait dengan perangnya dengan Iran. Menurutnya, Teheran kini berada dalam kondisi hancur menyusul kematian sejumlah elite politiknya akibat serangan dari Washington dan Israel.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa negara tersebut berada dalam kondisi kolaps. Teheran juga diklaim telah meminta kepadanya untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Industri Elektronik Tertekan, Konflik Iran-Amerika Serikat Picu Lonjakan Harga PCB

"Iran baru saja memberi tahu kami bahwa mereka berada dalam ‘kondisi kolaps’. Mereka ingin kami membuka Selat Hormuz. Mereka di sisi lain mencoba menyelesaikan situasi kepemimpinan mereka," kata Trump.

Trump tidak menjelaskan bagaimana pesan tersebut disampaikan oleh Iran. Oleh karenanya, belum dapat dipastikan jalur komunikasi yang digunakan antara Teheran dan Amerika Serikat.

Adapun saat ini, belum ada tanda-tanda berlanjutnya negosiasi damai dari Iran dan Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dilaporkan tidak senang atas prorposal dari Iran. Ia tidak puas dengan proposal itu karena hal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir dari Teheran.

Proposal Iran sendiri dilaporkan mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir dan isu pelayaran di Selat Homruz. Namun, pendekatan ini bertentangan dengan posisi isu nuklir dari Washington.

Tahap awal proposal tersebut mencakup penghentian perang serta penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali wilayah dari Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik.

Iran, setelah isu keamanan dan pelayaran diselesaikan, ingin pembahasan berlanjut ke program nuklir, termasuk tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Namun, Washington menegaskan bahwa isu nuklir harus menjadi bagian dari negosiasi sejak awal. Ia ingin hal tersebut menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan dari Iran dan Amerika Serikat.

Konflik kedua negara yang tak kunjung usai ini telah mengganggu pasokan energi global, mendorong inflasi, serta menyebabkan ribuan korban jiwa. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi minyak dunia, sehingga pembukaannya menjadi faktor krusial dalam stabilitas pasar energi global.

Baca Juga: Rusia Terpukau, Putin Puji Kehebatan Iran Hadapi Amerika Serikat

Hingga kini, upaya diplomasi belum menunjukkan kemajuan signifikan, dengan kedua pihak masih bersikukuh pada posisi masing-masing. Selama Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka dan konflik belum mereda, risiko terhadap ekonomi global diperkirakan tetap tinggi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar