Asuransi Properti Masih Terseok, Edukasi Rendah dan Premi Jadi Kendala
Kredit Foto: MPMInsurance
Industri asuransi properti di Indonesia masih menghadapi tantangan penetrasi pasar yang rendah di tengah meningkatnya risiko kerusakan aset akibat cuaca ekstrem dan bencana. Rendahnya literasi keuangan masyarakat serta mahalnya harga rumah dinilai menjadi hambatan utama pertumbuhan sektor ini.
Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo mengatakan belum banyak masyarakat yang mengasuransikan properti miliknya karena minimnya pemahaman terhadap manfaat perlindungan aset.
“Ketidaktahuan itu sering disebut edukasi dan literasi. Terbukti pengeluaran masyarakat untuk rokok cukup tinggi yang harganya lebih tinggi dari premi asuransi,” ujar Irvan kepada media, Selasa (28/4/2026).
Menurut dia, tingginya harga rumah juga membuat masyarakat lebih fokus pada pembelian aset dibandingkan perlindungan setelah memiliki properti.
Baca Juga: OJK Perpanjang Batas Laporan Keuangan Asuransi dan Kewajiban SLIK hingga 2027
Baca Juga: OJK Siapkan Skema Asuransi untuk Program 3 Juta Rumah
Irvan menilai kendala tersebut seharusnya dapat diatasi melalui skema subsidi premi atau subsidi bunga, serupa mekanisme Penerima Bantuan Iuran (PBI) pada BPJS Kesehatan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Pemerintah harus makin gencar soal edukasi dan literasi. Apalagi saat ini asuransi wajib seperti yang diatur dalam UU P2SK,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri