Kadin Dorong Pengusaha Lokal Tingkatkan Produksi Telur untuk MBG, Kebutuhan Capai 480 Juta Butir per Bulan
Kredit Foto: Istimewa
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pengusaha lokal untuk meningkatkan produksi telurayam guna memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus meningkat.
Dengan jumlah penerima manfaatsaat ini sekitar 60 juta orang dan asumsi konsumsi telur per minggu 2 butir, kebutuhan telur mencapai sekitar 120 juta butirper minggu atau lebih dari 480 juta butir per bulan.
Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan Kadin Indonesia Cecep Muhammad Wahyudin menegaskan, keterlibatan mitra dari China bukan untuk menggeser peran pengusaha lokal, melainkan untuk memperkuat kapasitas produksi melaluitransfer teknologi peternakan.
Permintaan telur diproyeksikan terus meningkat seiring target penerima manfaat MBG yang akan mencapai 92,78 juta orang pada 2029, serta kenaikan konsumsi telur per kapita masyarakat Indonesia.
Jika penerima manfaat MBG mencapai 92,78 juta di tahun 2029 dan konsumsi penduduk indonesia per kapita meningkat di atas satu butir per hari atau lebih dari 365 butir perkapita per tahun, maka permintaan akan jauh melampaui produksi. Karena itu, produksi harus ditingkatkan dan distribusi perlu dibenahi.
IHal ini sangat penting untuk dibuat rencana dan strategi sejak saat ini mengingat rantai bisnis ayam sangat panjang, mulai dari Great Grand Parent (GGP), grand parent stock (GPS), parent stock (PS) dan baru kemudian final stock (FS) yang menghasilkan telur konsumsi. Untuk melengkapi proses panjang ini sekurangnya dibutuhkan waktu lebih dari tiga tahun,” ujar Cecep di Jakarta, Rabu (29/04/2026).
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kadin Indonesia bersama Kadin Provinsi Aceh telah menerima kunjungan The China Egg Industry Chain Business Delegation pada 21 April 2026. Pertemuan tersebut membahas kerja sama bertajuk "Strategic Orchestration of China’s Agrotechnology Ecosystem for Strengthening the Supply Chain of MBG Sumatra Corridor", yang berfokus pada investasi dan transfer teknologi di sektor ayam petelur, khususnya di wilayah Aceh.
Cecep menegaskan dan memastikan, perusahaan China yang melakukan audiensi dengan Kadin Indonesia, tidak menjadi integrator vertikal di industri peternakan ayam petelur di Indonesia. Ada regulasi yang mengatur hal ini, yakni aturan tentang pembatasan integrasi vertikal sebagaimana termaktub dalam UU NO.5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Dalam UU ini disebutkan, tidak boleh ada perusahaan integrator yang menguasai rantai bisnis dari hulu hingga hilir. Regulasi lain adalah Permentan No.32/2017 terkait Pengendalian-Supply-Demand. Perusahaan China ini diharapkan membawa teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi peternakan melalui konsep integrasi horizontal khususnya di industri peternakan ayam petelur yang telah digagas dan di rencanakan sejak Rapimnas Kadin di akhir tahun 2024.
Penggunaan teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk peternakan adalah salah satu program unggulan Kadin Bidang Peternakan dan bahkan saat ini telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Protein, kolaborasi antara Kementrian Koperasi, Kadin Indonesia, dan HKTI.
“Ini adalah dukungan nyata bagi UMKM peternak agar mampumemproduksi telur dengan efisiensi tinggi, standar kualitas internasional, dan harga yang kompetitif,” ujarnya.
Rencana kerja sama ini menargetkan investasi sekitar Rp 1,4 triliun untuk pembangunan peternakan ayam petelur di rantai hulu, mencakup pembangunan breeding farm, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan telur di Provinsi Aceh dengan menggandeng peternak mandiri/rakyat untuk membentuk ekosistem industri peternakan terintegrasi secara horizontal.
“Kadin berharap inisiatif ini dapat direplikasi di berbagai daerah, sehingga terbentuk kedaulatan pangan di masing-masing wilayah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelas Cecep.
Saat ini, konsumsi telur per kapita di Indonesia tergolong rendah, di bawah Malaysia. Konsumsi telur per kapita di negeri jiran itu sudah di atas satu butir per hari, sedang di Indonesia masih di bawah satu butir per hari.
Di sisi lain, menurut BPS kapasitas produksi telur nasional saat ini diperkirakan berada di kisaran 90-100 miliar butir per tahun. Namun, angka tersebut telah terserap oleh konsumsi rumah tangga, industri makanan, dan sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe), sehingga tambahan kebutuhan dari MBG menciptakan tekanan baru pada rantai pasok.
Baca Juga: Jawa Barat Kian Dilirik Investor Mancanegara, Kadin Apresiasi Kepemimpinan Dedi Mulyadi
Kadin menilai tantangan tidak hanya terletak pada peningkatan produksi, tetapi juga pada efisiensi distribusi dan kualitaspasokan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi modern menjadi kunci, mulai dari sistem kandang tertutup (closed house), otomatisasi pakan, hingga teknologi logistik seperti cold chain dan digitalisasi distribusi.
“Ini adalah strategi jangka panjang untuk memperkuat rantai pasok pangan nasional, bukan solusi instan melalui impor. Kami ingin memastikan peternak lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan dukungan teknologi terbaik. Selain itu juga Kadin membidik pangsa pasar global khususnya pemenuhan kebutuhan telur untuk Singapura, yang saat ini Indonesia belum menjadi bagian pemasok utama telur ke negeri tetangga dekat ini,” terang Cecep.
Melalui kolaborasi investasi dan transfer teknologi, Kadin optimistis industri ayam petelur nasional dapat berkembang lebih modern, efisien, dan mampu memenuhi lonjakankebutuhan protein masyarakat di masa depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat