May Day 2026, Buruh di Batam Tuntut Revisi UU Ketenagakerjaan dan Hapus Outshorching
Kredit Foto: Antara/Didik Suhartono
Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 di Batam diwarnai gelombang tuntutan dari ratusan pekerja. Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) bersama sejumlah serikat lainnya menggelar aksi di Lapangan Welcome To Batam (WTB), Jumat (1/5/2026).
Ketua Konsulat Cabang FSPMI Batam, Yafet Ramon, menegaskan revisi Undang-Undang Ketenagakerjaan menjadi tuntutan utama. Ia mengingatkan adanya batas waktu dari putusan Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan pemerintah dan DPR merampungkan regulasi baru paling lambat Oktober 2026.
“Belum terlihat progres signifikan, padahal draf dari buruh sudah diserahkan ke DPR,” ujarnya.
Selain itu, buruh menolak sistem outsourcing yang dinilai merugikan karena minim kepastian kerja, upah, dan jaminan sosial. Mereka juga menuntut penghapusan pajak atas THR, pensiun, dan JHT, serta perlindungan lebih bagi pekerja perempuan melalui ratifikasi Konvensi ILO 190.
Di sisi lain, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan pekerja dan pengusaha demi stabilitas ekonomi daerah. Ia menyebut penetapan UMK terbaru sebagai salah satu yang paling kondusif dalam lebih dari satu dekade.
“Dialog antara pemerintah, pekerja, dan pengusaha menjadi kunci,” katanya.
Berdasarkan data BP Batam, nilai ekspor Batam pada Januari hingga Februari 2026 tercatat sebesar US$3,107 miliar, atau turun 3,67 persen (year-on-year). Namun, koreksi tersebut tidak terjadi secara merata, melainkan terkonsentrasi pada dua sektor utama, yaitu industri kapal dan kokoa/coklat.
Penurunan terbesar berasal dari ekspor kapal yang turun sekitar US$433,65 juta, serta ekspor kokoa/coklat yang turun sekitar US$91,23 juta. Konsentrasi penurunan ini menunjukkan bahwa pelemahan ekspor Batam lebih dipicu oleh koreksi pada sektor tertentu, bukan penurunan menyeluruh pada basis industri.
Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, melakukan peninjauan langsung dan dialog dengan pelaku usaha di kedua sektor tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan saat ini didominasi oleh faktor eksternal.
Dari kunjuangan ini, Ia mendapati pada sektor kapal, penurunan dipengaruhi oleh melemahnya permintaan global serta berakhirnya siklus pesanan besar pada periode sebelumnya, ditambah sensitivitas terhadap harga energi dan dinamika geopolitik.
Sementara pada sektor kokoa/coklat, produksi tetap berjalan, namun realisasi ekspor melambat akibat kenaikan biaya bahan baku, logistik, serta kehati-hatian pasar global.
“Data menunjukkan bahwa koreksi ekspor Batam tidak bersifat menyeluruh, tetapi spesifik pada sektor tertentu. Karena itu, respons yang kami siapkan juga harus presisi, dengan memahami sumber tekanan secara langsung di laapangan," ujarnya.
Meski investasi Batam mencapai Rp69,3 triliun dan IPM meningkat, tantangan ketenagakerjaan masih besar, terutama akibat tingginya arus pencari kerja ke Batam.
Pemerintah pun mendorong kolaborasi semua pihak agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Romus Panca
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: