Kredit Foto: Antara/Idhad Zakaria
Huda juga menyoroti adanya dua komponen harga dalam sistem ojol, yakni harga ke konsumen dan harga ke pengemudi, yang kerap menimbulkan salah persepsi terkait besaran potongan.
“Dalam skema pembayaran, ada dua harga, yaitu harga ke konsumen dan harga ke pengemudi. Harga ke konsumen terdiri dari biaya perjalanan, biaya platform, dan biaya lainnya. Sementara itu, pendapatan pengemudi hanya berasal dari biaya perjalanan,” paparnya.
Menurutnya, jika pendapatan platform tertekan akibat penurunan potongan, dampaknya justru bisa berimbas pada penurunan permintaan.
“Jika platform kehilangan pendapatan, diskon ke konsumen atau penumpang kemungkinan akan berkurang. Permintaan akan turun, dan pendapatan agregat pengemudi akan terkoreksi,” ujarnya.
Baca Juga: Asosiasi Semringah Pemerintah Batasi Potong Pendapatan Ojol
Baca Juga: Ojol Dapat BPJS dan Porsi Hasil 92%, Prabowo Tekan Aplikator
Sementara itu, Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Ia menilai jumlah pengemudi yang terlalu banyak menjadi akar masalah yang memengaruhi pendapatan ojol.
“Jalan keluar yang rasional dan memberikan dampak positif yang luas seharusnya adalah mengurangi jumlah ojol secara bertahap,” ujar Djoko Setijowarno kepada Warta Ekonomi, Selasa (5/5/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: