Kredit Foto: BPMI Setpres
Ia menambahkan, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun saat ini mencapai 4,47%, yang turut mendorong penguatan dolar AS secara global. Kondisi ini memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini adalah satu harga minyak yang tinggi, dua suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi,” ujarnya.
Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi faktor musiman yang terjadi pada periode April hingga Juni. Pada periode ini, permintaan terhadap dolar AS meningkat seiring kebutuhan pembayaran dividen ke luar negeri, pembayaran utang, serta kebutuhan valuta asing untuk keberangkatan jemaah haji.
“Memang secara musiman April, Mei, Juni ini permintaan terhadap dolarnya tinggi. Ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang dan juga untuk jemaah haji,” kata Perry.
Kombinasi tekanan global dan musiman tersebut menyebabkan volatilitas nilai tukar rupiah meskipun kondisi fundamental ekonomi domestik dinilai tetap kuat.
Bank Indonesia menilai kondisi ini bersifat sementara, dengan prospek stabilitas nilai tukar yang tetap terjaga dalam jangka menengah seiring solidnya indikator makroekonomi nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: