Kredit Foto: BPMI Setpres
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus kisaran Rp17.400 per dolar AS terjadi di tengah fundamental ekonomi domestik yang kuat. Tekanan terhadap rupiah, menurutnya, dipicu oleh kombinasi faktor global dan musiman dalam jangka pendek. Tercatat, pada Selasa (5/5/2026), rupiah berada pada level Rp 17.424 per dolar AS.
Perry menegaskan bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalue dan berpotensi kembali stabil serta menguat ke depan.
“Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu under value. Under value dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat,” ujarnya, kala memberikan keterangan Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Istana Merdeka, Jakarta (5/5/2026).
Ia menjelaskan, indikator makroekonomi Indonesia menunjukkan kondisi yang solid, mulai dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61%, inflasi yang terjaga rendah, pertumbuhan kredit yang kuat, hingga cadangan devisa yang memadai. Kondisi tersebut secara teori mendukung penguatan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Airlangga Beberkan Penyebab Rupiah Melemah ke Rp17.424 per Dolar AS
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp17.400, Bank Indonesia Sebut Masih Sejalan dengan Mata Uang Global
Baca Juga: Pemerintah dan BI Siapkan Strategi Swap Currency Jaga Stabilitas Rupiah
“Fundamental kita itu kuat, pertumbuhan sangat tinggi 5,61%, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat,” kata Perry.
Namun, tekanan eksternal menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Perry menyebut kenaikan harga minyak global serta peningkatan suku bunga di Amerika Serikat sebagai pemicu utama.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: