Indeks Kepercayaan Investor Asing: Indonesia Turun Peringkat
Kredit Foto: KEK Industropolis Batang
Indeks Kepercayaan Investasi Asing atau Foreign Direct Investment Confidence Index (FDICI) 2026 dari Kearney menunjukkan Indonesia masih menjadi tujuan menarik bagi investor, meski peringkatnya turun di tengah ketidakpastian global.
Dalam laporan tersebut, Indonesia berada di posisi ke-13 untuk kategori pasar berkembang, turun satu peringkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, Amerika Serikat tetap menempati peringkat pertama secara global, diikuti Kanada, Jepang, dan China. Di kawasan Asia Tenggara, Singapura berada di posisi ke-8 global.
Baca Juga: Kuartal I 2026: Pasar Properti Indonesia Stabil, Segmen Menengah Jadi Penopang
Secara regional, Asia Pasifik menjadi kawasan dengan representasi tertinggi dalam indeks tersebut, dengan 10 negara masuk dalam daftar. Arus investasi asing langsung (FDI) ke Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) bahkan mencetak rekor US$225 miliar pada 2024.
Untuk kategori pasar berkembang, Thailand naik ke peringkat ke-6, sementara Malaysia naik ke posisi ke-7, mencerminkan meningkatnya daya tarik kawasan dalam rantai pasok global.
Meski peringkat Indonesia turun, sentimen investor tetap kuat. Sebanyak 87% responden menyatakan optimisme yang sama atau lebih tinggi terhadap Indonesia, bahkan di tengah ketegangan geopolitik global.
President Director Kearney Indonesia, Shirley Santoso menilai Indonesia memiliki strategi yang jelas untuk menarik investasi.
“Indonesia telah menerapkan strategi terkoordinasi melalui kebijakan industri, reformasi regulasi, serta insentif untuk mendorong investasi di sektor prioritas seperti kendaraan listrik, energi terbarukan, infrastruktur, dan digital,” ujarnya.
Investor menilai daya tarik utama Indonesia berasal dari tenaga kerja dan sumber daya alam, masing-masing sebesar 28%. Dengan populasi besar, Indonesia dinilai memiliki keunggulan demografis yang mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Sebagai produsen nikel terbesar dunia, Indonesia juga menjadi pusat investasi di sektor hilirisasi. Pada 2025, sektor logam dasar mencatat realisasi FDI tertinggi sebesar US$14,6 miliar, diikuti sektor pertambangan sebesar US$4,7 miliar.
Faktor lain yang turut dipertimbangkan investor adalah kinerja ekonomi (27%), kemudahan berusaha (25%), serta inovasi teknologi (21%). Sementara faktor tata kelola dan transparansi dinilai memiliki pengaruh lebih rendah dibandingkan negara lain di Asia.
Kinerja investasi Indonesia juga tetap solid. Pada kuartal I 2026, realisasi investasi mencapai Rp498,79 triliun atau 100,36% dari target pemerintah, tumbuh 7,22% secara tahunan. Komposisi antara Penanaman Modal Asing (FDI) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) relatif seimbang.
Kontributor terbesar investasi berasal dari Singapura (US$4,6 miliar), Hong Kong (US$2,7 miliar), China (US$2,2 miliar), Amerika Serikat (US$1,7 miliar), dan Jepang (US$1 miliar).
Meski demikian, risiko global tetap menjadi perhatian utama investor. Sebanyak 36% responden memandang ketegangan geopolitik sebagai risiko terbesar dalam satu tahun ke depan, diikuti kenaikan harga komoditas dan ketidakstabilan politik di negara maju sebesar 30%.
Selain itu, kebijakan industri kini menjadi faktor penting dalam keputusan investasi. Sebanyak 84% investor menilai kebijakan industri sangat penting, namun hampir 90% juga melihat adanya risiko dari tumpang tindih kebijakan antarnegara.
Di kawasan Asia, kompetisi semakin ketat dalam sektor strategis seperti semikonduktor, kendaraan listrik, dan energi hijau. Negara seperti China, Jepang, dan Singapura dinilai unggul dalam stabilitas kebijakan, sementara negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand, dan Malaysia menarik investasi melalui strategi diversifikasi rantai pasok “China+1”.
Shirley menekankan pentingnya langkah lanjutan bagi Indonesia.
“Untuk meningkatkan daya tarik investasi, Indonesia perlu memperkuat kepastian regulasi, mempercepat transisi energi, serta memperdalam kerja sama regional, sambil melanjutkan reformasi struktural,” ujarnya.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Masih Ngebut, Purbaya: Duit Banyak, Gak Usah Takut
Ia menambahkan bahwa peningkatan tata kelola, inovasi teknologi, dan pembangunan infrastruktur akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor secara berkelanjutan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: