Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Erajaya (ERAA) Rilis Sustainability Report Perdana: ESG Dinilai Makin Jadi Strategi Bisnis

Erajaya (ERAA) Rilis Sustainability Report Perdana: ESG Dinilai Makin Jadi Strategi Bisnis Kredit Foto: Erajaya
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) untuk pertama kalinya merilis sustainability report secara terpisah dari annual report. Laporan keberlanjutan perdana tersebut dirilis bersamaan dengan laporan keuangan kuartal I 2026 pada 30 April 2026. Hal ini menandai peningkatan fokus perusahaan terhadap implementasi dari Environmental, Social and Governance (ESG).

Dalam laporan tersebut, Erajaya mencatat ESG Score sebesar 17,03 dengan kategori Low Risk berdasarkan penilaian Sustainalytics IDX ESG Risk Rating yang bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Baca Juga: Penjualan Erajaya (ERAA) Tembus Rp22,4 Triliun, Laba Melonjak 133% di Awal 2026

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai tren pemisahan sustainability report semakin terlihat sejak diberlakukannya POJK No.51/POJK.03/2017.

“Tren pemisahan sustainability report memang semakin terlihat sejak diberlakukannya POJK No.51/POJK.03/2017. Namun yang lebih penting adalah pergeseran cara pandang perusahaan, di mana ESG kini mulai menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar formalitas pelaporan,” ujar Hendra.

Penguatan pendekatan ESG tersebut hadir di tengah pertumbuhan bisnis ERAA yang terus meningkat. Pada kuartal I 2026, ERAA membukukan penjualan neto sebesar Rp22,4 triliun atau tumbuh 41,12% secara tahunan (year-on-year/YoY). Sementara itu, laba bersih perseroan melonjak 133,49% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Total aset perusahaan juga meningkat menjadi Rp31,5 triliun, mencerminkan ekspansi operasional dan penguatan bisnis yang terus berlangsung.

Menurut Hendra, pertumbuhan tersebut menunjukkan diversifikasi bisnis mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan. Namun, ia mengingatkan agar lonjakan laba bersih yang jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan penjualan tetap dicermati secara hati-hati.

“Lonjakan laba bersih yang jauh melampaui pertumbuhan penjualan perlu dibaca secara hati-hati. Ini bisa menjadi sinyal positif jika didorong efisiensi atau perbaikan margin, namun juga berpotensi mengandung risiko jika berasal dari faktor non-berulang. Kuncinya ada pada konsistensi margin operasional,” ujarnya.

Transformasi bisnis ERAA juga memperbesar skala dan kompleksitas operasional perusahaan. Hingga 2025, Erajaya tercatat mengoperasikan 2.333 gerai yang didukung lebih dari 70 distribution center serta jaringan distribusi ke lebih dari 54.000 outlet pihak ketiga.

Sepanjang 2025, perusahaan juga menambah 345 gerai baru di berbagai wilayah.

Dengan footprint operasional yang semakin luas, eksposur perusahaan terhadap isu ESG seperti konsumsi energi, pengelolaan limbah hingga rantai pasok ikut meningkat. Dalam konteks tersebut, tata kelola keberlanjutan dinilai semakin relevan untuk mendukung operasional perusahaan dalam jangka panjang.

“Ekspansi gerai dan penambahan vertikal bisnis akan meningkatkan konsumsi energi, kompleksitas pengelolaan limbah, serta risiko dalam rantai pasok. Karena itu, pengelolaan ESG menjadi semakin krusial bagi perusahaan ritel berskala besar,” kata Hendra.

Dalam sustainability report perdananya, Erajaya juga memaparkan sejumlah inisiatif ESG yang lebih terukur dan berkaitan langsung dengan operasional bisnis perusahaan.

Salah satu fokus utama berada pada pengelolaan limbah elektronik atau e-waste melalui program Erafone Jaga Bumi. Sepanjang 2025, perusahaan mendaur ulang 3.911 unit sampah elektronik yang berkontribusi terhadap potensi pengurangan emisi hingga 437 ton CO2e per tahun serta penghematan energi sebesar 301.261 kWh.

Selain itu, perusahaan juga menjalankan berbagai program konservasi lingkungan, termasuk penanaman dan perawatan 7.486 pohon di area konservasi seluas 16 hektare di Bogor dan Bandung.

Pada aspek operasional, perusahaan mulai menjalankan sejumlah inisiatif seperti zero waste initiative, penggunaan green merchandise hingga pengurangan penggunaan air di sejumlah operasional perusahaan.

“Inisiatif e-waste kini bukan lagi sekadar tanggung jawab sosial tetapi sudah menjadi faktor bisnis yang material. Perusahaan yang lebih siap akan memiliki keunggulan kompetitif, baik dari sisi kepatuhan maupun persepsi investor,” ujar Hendra.

Di sisi lain, meningkatnya perhatian regulator terhadap sustainable finance juga dinilai mendorong perusahaan publik memperkuat governance dan sustainability framework mereka.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa tahun terakhir terus mendorong penguatan implementasi ESG serta keterbukaan informasi keberlanjutan di pasar modal Indonesia.

Bagi perusahaan dengan skala operasional besar dan basis konsumen yang luas, sustainability dinilai mulai bergerak dari sekadar program menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

ESG risk rating sebaiknya dipandang sebagai pelengkap, bukan pengganti analisis fundamental. Investor tidak hanya melihat pertumbuhan laba, tetapi juga kualitas keberlanjutan operasional dan kemampuan perusahaan mengelola risiko ESG dalam jangka panjang,” ujar Hendra.

Baca Juga: PTPP Tegaskan ESG Jadi DNA Bisnis Lewat Transformasi Hijau

Di tengah ekspansi bisnis dan pertumbuhan operasional yang agresif, langkah Erajaya memperkuat pelaporan keberlanjutan menunjukkan bahwa ESG mulai diposisikan sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang, seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap transparansi dan tata kelola perusahaan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar