Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wamenkomdigi Sebut Permainan Egrang Jadi 'Tombol Jeda' Anak dari Penetrasi Digital

Wamenkomdigi Sebut Permainan Egrang Jadi 'Tombol Jeda' Anak dari Penetrasi Digital Kredit Foto: Komdigi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Permainan tradisional egrang dinilai semakin relevan di tengah tingginya intensitas anak-anak hidup di ruang digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut permainan fisik seperti egrang dapat menjadi 'tombol jeda' membantu anak menjaga keseimbangan emosional, interaksi sosial, dan kesehatan mental.

“Permainan egrang bisa menjadi satu tombol pause, tombol jeda dari intensitas yang begitu tinggi masuknya kita ke ruang digital. Permainan fisik seperti ini memberikan banyak pelajaran tentang keseimbangan, kerja sama, dan gotong royong,” ujarnya saat menghadiri Launching Festival Egrang ke-14 di Ledokombo, Jember, Jawa Timur dikutip Minggu (10/5/2026).

Menuru Nezar Patria, perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi anak-anak.

Saat ini, penetrasi internet Indonesia telah mencapai 80,26 persen populasi, dengan sekitar 230 juta masyarakat terkoneksi internet dan jaringan telekomunikasi menjangkau 97 persen wilayah berpenghuni.

Di balik capaian tersebut, Nezar Patria mengingatkan arti penting menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan interaksi sosial di dunia nyata.

“Saat ini kita tidak lagi sekadar menggunakan teknologi, tetapi hidup di dalamnya. Ada banyak permainan anak yang mulai tergusur oleh ruang digital. Egrang menjadi salah satu yang tetap bertahan karena dijaga bersama oleh komunitas,” katanya.

Baca Juga: Bukan Larangan Akses, Komdigi Tegaskan PP Tunas Hadir Sebagai Standardisasi Akuntabilitas Platform bagi Anak

Baca Juga: Menkomdigi Dampingi Presiden, Bagikan 250 Modem Starlink dan Perkuat Sinyal BTS di Pulau Miangas

Nezar Patria menilai pelindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya melalui regulasi platform digital, tetapi juga membutuhkan lingkungan sosial yang sehat di dunia nyata.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra