Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi. Kondisi tersebut diperkirakan akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.45 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.503 per dolar AS.
Baca Juga: Tembus Rp17.500 per Dolar, Dunia Soroti Kondisi Rupiah yang Lebih Buruk daripada Saat Krisis 1998
Sebelumnya, rupiah dibuka di posisi Rp17.489 per dolar AS atau turun 75 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi menilai pelemahan rupiah memiliki dampak yang relatif cepat terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat.
Menurut Rijadh, dalam kajian ekonomi fenomena tersebut dikenal sebagai inflasi impor, yakni kondisi ketika pelemahan rupiah menyebabkan harga barang impor menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah.
Ia menjelaskan perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi. Meski awalnya masih bisa menggunakan stok lama, pada akhirnya penyesuaian harga sulit dihindari.
“Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak,” ujar Rijadh.
Kenaikan harga tersebut dinilai bisa mulai terasa dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelah pelemahan kurs berlangsung.
Selain berdampak terhadap masyarakat, pelemahan rupiah juga memberi tekanan terhadap anggaran negara, terutama pada sektor yang sensitif terhadap kurs dolar AS.
Rijadh menyebut subsidi energi menjadi salah satu pos yang paling terdampak karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap komponen impor energi.
Di sisi lain, utang luar negeri pemerintah juga menjadi lebih mahal karena pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah ikut meningkat saat kurs dolar menguat.
“Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas,” jelasnya.
Rijadh menilai kondisi tersebut menempatkan Bank Indonesia dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, suku bunga yang rendah dibutuhkan untuk menjaga aktivitas ekonomi dan biaya kredit tetap terjangkau. Namun di sisi lain, stabilitas rupiah juga harus dijaga agar tekanan ekonomi tidak semakin besar.
Ia menilai langkah intervensi di pasar valuta asing dan penggunaan instrumen surat berharga untuk menarik aliran modal menjadi pendekatan yang cukup rasional dalam kondisi saat ini.
“Pendekatan ini menurut saya cukup rasional, karena mencoba menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik,” katanya.
Lebih lanjut, Rijadh menekankan pentingnya memperkuat sektor domestik agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor, terutama untuk pangan dan energi.
Ia juga mengingatkan bahwa kelompok masyarakat rentan biasanya menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampak pelemahan rupiah akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
Baca Juga: Netizen Soroti Harta Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR: Kekayaan dan Aset Kok Beda?
“Yang tidak kalah penting menurut saya adalah menjaga daya tahan masyarakat rentan. Program perlindungan sosial harus tetap kuat dan adaptif, karena kelompok inilah yang biasanya paling cepat merasakan dampak dari kenaikan harga,” tuturnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar