Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Tembus Rp17.500/USD, Kondisi Rupiah Lebih Buruk daripada Saat Krisis 1998!

Tembus Rp17.500/USD, Kondisi Rupiah Lebih Buruk daripada Saat Krisis 1998! Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi. Pelemahan mata uang nasional tersebut langsung memicu gelombang reaksi dari netizen, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.45 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.503 per dolar AS.

Baca Juga: Rekor Buruk, Rupiah Jebol ke Level Rp17.500 Pada Perdagangan Pagi Ini

Sebelumnya, rupiah dibuka di posisi Rp17.489 per dolar AS atau turun 75 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah itu ramai dibahas di media sosial internasional, termasuk setelah akun ekonomi global @spectatorindex menyoroti pergerakan mata uang Indonesia tersebut.

Banyak netizen mempertanyakan penyebab pelemahan rupiah yang terus berlanjut di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih berada di atas 5 persen.

Salah satu netizen menyoroti nilai tukar rupiah yang dianggap terlalu lemah dibanding mata uang negara tetangga.

“Nih biar kerasa kalau IDR tuh bapuk banget saat ini, lihat berapa nol di belakang koma. Bandingkan dengan Singapore (SGD). Ambyar ambyar,” tulis seorang netizen.

Netizen lain mempertanyakan alasan rupiah terus merosot meski selama ini dinilai undervalued.

They said Indonesian rupiah is undervalued, but why does it falls to record low? There must be an underlying cause,” tulis netizen lainnya.

Sorotan juga datang dari netizen luar negeri yang membandingkan kondisi saat ini dengan krisis moneter Asia 1998.

That's weaker than during the 1998 Asian financial crisis. Not a good comparison to be making,” ujar seorang netizen asing.

Selain itu, ada pula netizen yang menilai pelemahan rupiah berpotensi memicu tekanan lebih besar terhadap perekonomian nasional.

Indonesia’s economy is still growing over 5%, yet the rupiah keeps sliding. That means higher import costs, more pressure on inflation, and tougher conditions for foreign investment,” tulis netizen lainnya.

Pelemahan rupiah belakangan dikaitkan dengan meningkatnya ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik di Timur Tengah serta penguatan dolar AS di pasar internasional.

Baca Juga: Netizen Soroti Harta Juri Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR: Kekayaan dan Aset Kok Beda?

Sebelumnya, sejumlah analis juga memperingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah dapat berdampak terhadap pasar keuangan domestik, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), biaya impor, hingga inflasi nasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar