Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Bank Mandiri Proyeksikan IHSG Tembus ke Level 9.050 pada Akhir 2026

Bank Mandiri Proyeksikan IHSG Tembus ke Level 9.050 pada Akhir 2026 Kredit Foto: Uswah Hasanah
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencapai level 9.050 hingga akhir 2026. Meski, pasar saham domestik masih mengalami tekanan dari sentiment global.

Equity Research Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat, mengatakan pihaknya mempertahankan target IHSG di level 9050 dengan memperhatikan sejumlah risiko terhadap margin dan pertumbuhan bisnis imbas lonjakan harga minyak dunia. 

“Kami menjaga target IHSG kami di 9050, walaupun kami meng-highlight bahwa memang kami sangat mencermati kira-kira tren tekanan pada margin dan juga pertumbuhan bisnis beberapa emiten-emiten besar akibat dari dampak kenaikan lonjakan harga energi tersebut,” kata Kresna dalam Mandiri Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook, Jakarta, Senin (11/5/2026). 

Kresna menjelaskan performa pasar saham Indonesia saat ini turut dipengaruhi tekanan terhadap rupiah. Kondisi tersebut terjadi karena investor global melihat risiko di pasar negara berkembang atau emerging market meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Kendati demikian, Kresna menilai investor asing tidak sepenuhnya meninggalkan pasar keuangan Indonesia. Dalam dua bulan terakhir, justru terjadi arus masuk dana asing ke pasar obligasi domestik.

“Pasar obligasi nasional kita dan menurut kami itu merupakan salah satu strategi investor asing untuk merotasi aset dari equity ke bonds kita ya mengingat risk aversion behavior tersebut,” ucapnya. 

Ia menjelaskan, aliran dana asing ke pasar saham dalam satu hingga dua bulan ke depan masih akan sangat dipengaruhi sejumlah katalis jangka pendek. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian investor adalah hasil pengumuman MSCI serta respons kebijakan dari regulator dan pemangku kepentingan nasional.

Kresna mengakui tekanan jual di pasar saham dalam beberapa bulan terakhir membuat kinerja IHSG secara year to date tertinggal dibandingkan negara peers di kawasan.

Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat Jelang Hasil Pengumuman MSCI

Baca Juga: IHSG Terkapar Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI, Asing Kabur Rp751 Miliar

Namun, menurutnya kondisi tersebut bukan berarti Indonesia ditinggalkan investor. Emiten-emiten berbasis komoditas justru masih menjadi salah satu penopang utama performa IHSG sepanjang tahun 2026.

“ke depannya kita juga melihat bahwa sebenarnya ada banyak katalis, ada beberapa katalis yang menurut kami bisa menjadi potensi reversal untuk saham-saham juga perbankan dan konsumer. Terutama terkait dengan domestic capital market reform ke depannya,” pungkasnya. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra