Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Ultimatum Trump, Terima Proposal Damai atau Siap Hadapi Balasan Besar

Iran Ultimatum Trump, Terima Proposal Damai atau Siap Hadapi Balasan Besar Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Teheran kini melontarkan ultimatum keras kepada Washington, yakni menerima proposal damai terbaru atau bersiap menghadapi kegagalan diplomatik total di tengah konflik Timur Tengah yang makin tak menentu.

Diketahui, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menolak proposal damai terbaru dari Iran. Trump bahkan menyebut kondisi gencatan senjata saat ini berada di titik paling rapuh.

“Saya akan mengatakan itu salah satu yang terlemah saat ini. Itu dalam kondisi kritis... Saya akan mengatakan gencatan senjata berada dalam kondisi kritis,” tegas Trump.

Trump juga mengaku tidak puas dengan isi proposal tersebut dan enggan membuang waktu untuk membacanya lebih jauh. Sikap keras Washington itu langsung dibalas Iran dengan ancaman diplomatik dan militer yang lebih tajam.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Amerika Serikat tidak punya pilihan lain selain menerima hak-hak Iran sebagaimana tertuang dalam proposal 14 poin yang diajukan Teheran.

Baca Juga: Donald Trump Tolak Proposal Damai dan Sebut Gencatan Senjata Iran Kritis

“Tidak ada alternatif lainnya, selain menerima hak-hak rakyat Iran, sebagaimana diuraikan dalam proposal 14 poin. Pendekatan lainnya akan sepenuhnya tidak membuahkan hasil; hanya kegagalan demi kegagalan,” kata Ghalibaf dalam pernyataannya melalui media sosial X.

Ghalibaf yang juga menjadi kepala negosiator Iran dalam perundingan dengan AS mengatakan semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula beban yang harus ditanggung Amerika Serikat.

“Semakin lama itu berlarut-larut, semakin banyak pembayar pajak Amerika yang akan menanggungnya,” ujar Ghalibaf, dikutip dari AFP.

Perundingan damai antara kedua negara sendiri masih menemui jalan buntu setelah putaran awal negosiasi bulan lalu gagal menghasilkan terobosan berarti. Konflik yang telah berlangsung lebih dari dua bulan itu kini disebut berada di ambang eskalasi baru.

Iran juga menegaskan tidak akan mundur menghadapi tekanan Washington. Para pejabat militer Teheran bahkan memperingatkan mereka siap membalas setiap serangan baru dari AS.

Di tengah situasi yang semakin panas, parlemen Iran mulai mempertimbangkan langkah ekstrem dengan meningkatkan level pengayaan uranium hingga 90 persen. Angka tersebut dikenal secara internasional sebagai standar bahan baku senjata nuklir.

Juru bicara parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menyatakan opsi itu akan diambil jika Iran kembali menjadi sasaran serangan.

Baca Juga: Demokrat DPR AS Tuntut Pemerintahan Trump Buka Rahasia Program Nuklir Israel

Pernyataan tersebut sontak memicu kekhawatiran global karena pengayaan uranium hingga level 90 persen selama ini identik dengan pengembangan senjata nuklir.

Sebelumnya, Iran juga mengguncang pasar dunia lewat langkah pembatasan lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas global. Kebijakan itu memberi tekanan besar terhadap pasokan energi dunia sekaligus menjadi alat tawar penting bagi Teheran.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri