Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Risiko Outflow Membesar, Penurunan Bobot MSCI Berpotensi Picu Dana Keluar hingga US$2,8 Miliar

Risiko Outflow Membesar, Penurunan Bobot MSCI Berpotensi Picu Dana Keluar hingga US$2,8 Miliar Kredit Foto: MSCI
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pasar saham Indonesia menghadapi potensi tekanan arus dana asing keluar atau capital outflow menyusul hasil peninjauan indeks global oleh MSCI Inc. Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (EM) diperkirakan turun dari sekitar 0,7% menjadi 0,5% atau terkoreksi sekitar 27%.

Penurunan bobot tersebut berimplikasi langsung terhadap arus dana global, terutama dari investor institusi berbasis indeks. Potensi dana keluar outflow dari investor aktif dan pasif akibat eksklusi saham diperkirakan mencapai sekitar US$1,7 miliar.

"Total outflow secara keseluruhan bisa mencapai ± US$2,8 miliar jika memperhitungkan potensi penurunan bobot (downweight) pada konstituen lainnya," tulis analisis riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rabu (13/5/2026).

Meskipun pasar akan mengalami tekanan jangka pendek, Mirae Asset Sekuritas percaya bahwa fase terburuk sudah berlalu. Analis memproyeksikan sentimen akan pulih secara bertahap. 

Katalis positif berikutnya yang dinanti adalah tinjauan aksesibilitas pasar pada bulan Juni, yang diharapkan akan mencabut kebijakan pembekuan sehingga inklusi saham baru dan migrasi bobot ke atas dapat kembali terjadi bagi sekuritas Indonesia.

Baca Juga: MSCI Depak Sejumlah Saham RI, Waspada Tekanan Jual Asing di Pasar Modal

Baca Juga: Daftar Lengkap 19 Saham Indonesia yang Dicoret MSCI

Lebih lanjut Mirae Sekuritas Indonesia juga menyoroti hasil keputusan MSCI yang berbeda dari prediksi awal. Tampaknya MSCI langsung merespons penurunan free float berdasarkan pengungkapan kepemilikan >1% dari KSEI lebih cepat dari perkiraan. 

"Sebelumnya, kami memproyeksikan risiko ini baru akan muncul pada tinjauan Agustus 2026. Dengan penyesuaian yang ditarik lebih awal ke Mei, kami menilai tidak ada lagi emiten tambahan yang berisiko terkena faktor serupa pada tinjauan berikutnya," ungkap dia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: