- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bukan di Bangka, 'Emas Putih' Paling Dicari AS-Eropa Ternyata Ada di Mamuju
Kredit Foto: PT Timah Tbk
Indonesia tengah memetakan strategi hilirisasi mineral kritis seiring dengan ditemukannya deposit primer logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Temuan ini menjadi krusial karena selama ini konsentrasi REE nasional lebih dikenal sebagai mineral ikutan (associated minerals) pada tambang timah di Bangka Belitung, sementara pasar global, terutama Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, kini memprioritaskan deposit primer untuk menjamin kepastian pasokan jangka panjang.
Chairman Indonesia Mining Institute (IMI), Profesor Irwandy Arif, mengungkapkan bahwa eksistensi deposit primer di Mamuju merupakan titik balik strategis bagi kapabilitas hulu mineral Indonesia. Berbeda dengan monasit di Bangka Belitung yang merupakan produk sampingan penambangan timah aluvial, deposit di Mamuju berdiri sebagai mineral utama.
"Ada satu tempat di Indonesia yaitu di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat yang mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan," ungkap Irwandy dalam diskusi Badan Industri Mineral (BIM) yang diselenggrakan secara daring, dikutip Jumat (15/5/2026).
Inisiasi untuk membawa potensi REE Indonesia ke kancah global, kata Irwandy, sebelumnya menjadi bagian dari kebijakan strategis yang dirintis oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) pada era pemerintahan sebelumnya. Sebelum kementerian koordinator tersebut ditiadakan dalam struktur kabinet terbaru, Kemenko Marves menjadi motor utama dalam merintis kerja sama mineral kritis dengan blok Barat.
Irwandy mencatat bahwa langkah diplomasi energi tersebut bertujuan untuk mengimbangi dominasi Tiongkok yang saat ini menguasai 91% rantai pasok pemurnian dan pemisahan LTJ global. "Pemerintah melalui Kemenko Marves (saat itu) telah merintis kerja sama dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa, khususnya mengenai mineral kritis," jelas Irwandy, yang pada periode tersebut juga menjabat sebagai staf khusus di Kementerian ESDM.
Kerja sama ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi teknologi pemrosesan yang hingga kini belum dikuasai Indonesia secara komersial. Saat ini, Indonesia baru memiliki proyek percontohan (pilot plant) di Tanjung Ular (Bangka) dan Tanjung Unggat (Kepri), namun belum mencapai skala ekonomi.
Keunggulan Kadar: Mamuju vs Bangka
Secara teknis, deposit primer di Mamuju menawarkan keunggulan kadar (grade) yang jauh lebih tinggi dibandingkan mineral ikutan di wilayah lain. Data menunjukkan kadar total LTJ di Mamuju berada pada rentang 4.500 hingga 6.000 ppm. Sebagai komparasi, kadar LTJ yang teridentifikasi di Bangka Belitung berkisar antara 1.000 hingga 2.391 ppm.
Deposit di Mamuju mengandung unsur-unsur vital seperti Neodimium, Praseodimium, Terbium, dan Disprosium. Unsur-unsur inilah yang menjadi komponen inti dalam pembuatan magnet permanen. Sektor magnet dunia sendiri diproyeksikan akan menyerap 41% konsumsi REE global pada 2034, melonjak dari posisi 29% pada 2023.
Untuk mengeksekusi potensi ini, Pemerintah telah menyiapkan struktur kelembagaan melalui Badan Industri Mineral (BIM) dan merekomendasikan PT Perminas sebagai entitas pengelola izin usaha pertambangan di Mamuju.
Namun, Irwandy memberikan catatan tegas mengenai aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menjadi syarat mutlak mitra AS dan Eropa. Mengingat LTJ di Indonesia kerap berasosiasi dengan unsur Torium yang bersifat radioaktif, standar pengelolaan lingkungan menjadi variabel penentu.
"Pembuangan tailing berpotensi bersifat radioaktif karena kandungan torium. Ini menjadi tantangan lingkungan serius yang harus dikelola secara ketat," tambahnya.
Hingga tahun 2023, total sumber daya LTJ Indonesia tercatat mencapai 136.000 ton bijih, namun tingkat keyakinan terukur baru mencakup 1.822 ton. Dengan eksplorasi yang baru menyentuh 9 dari 28 lokasi potensial, pengembangan deposit primer di Mamuju menjadi harapan baru bagi Indonesia untuk masuk dalam jajaran elit pemasok mineral strategis dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: