Amunisi, Daya Tahan, dan Nyali: Tiga Ujian di Balik Pertumbuhan 5,61%
Oleh: Ariyo DP Irhamna, Ekonom INDEF, Dosen Universitas Paramadina
Kredit Foto: Antara/Erlangga Bregas Prakoso
Kelima, ongkos pertumbuhan.
Pertama, keseimbangan primer berbalik dari surplus Rp21,9 triliun pada Triwulan I-2025 menjadi defisit Rp95,8 triliun pada Triwulan I-2026, swing negatif Rp117,7 triliun dalam satu kuartal. Pola pemburukannya tidak linear: defisit primer per 31 Januari 2026 masih Rp4,2 triliun, tetapi per 31 Maret sudah Rp95,8 triliun. Februari dan Maret menambah Rp91,6 triliun, didorong akselerasi MBG, THR Rp51,6 triliun, dan bantuan pangan Rp13,37 triliun.
Pembayaran bunga utang Triwulan I-2026 sekitar Rp144,3 triliun, naik 18,6% YoY dari Rp121,7 triliun pada Triwulan I-2025 (dihitung dari selisih defisit anggaran dan defisit primer dalam APBN Kita April 2026). Sebagai konteks, realisasi setahun penuh 2024 sebesar Rp488,4 triliun atau 14,5% total belanja negara berdasarkan Statistik Keuangan Pemerintah Pusat Bank Indonesia (Tabel IV.2 - publikasi terbaru BI). Defisit primer Q1-2026 sebesar Rp95,8 triliun sudah 106,8% pagu defisit primer setahun penuh APBN 2026 sebesar Rp89,7 triliun. Tiga kuartal tersisa akan dibiayai sepenuhnya oleh utang baru, sementara bunga utang yang tumbuh 18,6% YoY akan terus mengikis pendapatan negara di kuartal-kuartal mendatang.
Kedua, subsidi dan kompensasi Triwulan I-2026 mencapai Rp118,7 triliun, hampir empat kali lipat realisasi Rp32,4 triliun pada Triwulan I-2025. Pagu APBN setahun penuh Rp266,5 triliun. Dengan Brent sekitar USD108 per barel jauh di atas asumsi APBN USD70 per barel dan rupiah di atas asumsi APBN 6,7%, realisasi setahun penuh berisiko melampaui pagu APBN.
Ketiga, rupiah menembus Rp17.605 per USD pada 16 Mei 2026, melampaui asumsi APBN 6,7%. Cadangan devisa turun tiga bulan beruntun dari USD151,9 miliar (akhir Februari) ke USD148,2 miliar (akhir Maret). Setiap pelemahan 1% menambah nilai utang luar negeri pemerintah dalam rupiah sekitar Rp35 triliun.
Keempat, depresiasi rupiah mengikis PDB per kapita Indonesia dalam USD. Perkiraan PDB nominal 2026 sekitar Rp25.780 triliun (dari Q1 Rp6.187,2 triliun, asumsi share Q1 24%) dibagi populasi 282 juta menghasilkan PDB per kapita Rp91,4 juta. Pada kurs APBN 16.500 setara USD5.540; pada kurs sekarang 17.605 hanya USD5.190. Selisih USD350 per kapita hilang bukan karena Indonesia memproduksi kurang, melainkan karena rupiah terdepresiasi. Setiap pelemahan 1% mengurangi PDB per kapita USD sekitar USD52, setara setahun pertumbuhan riil per kapita. Untuk mencapai status berpenghasilan tinggi (ambang Bank Dunia sekitar USD14.005) sebagaimana visi Indonesia Emas 2045, depresiasi rupiah secara mekanis menjauhkan target.
Kelima, surplus perdagangan menyusut meskipun rupiah dalam tren melemah. BPS Berita Resmi Statistik Maret 2026 mencatat surplus dagang Januari-Maret 2026 USD5,55 miliar, turun dari USD10,91 miliar pada periode sama 2025. Pemburukan USD5,37 miliar berasal 95,5% dari penyusutan surplus nonmigas (USD15,75 miliar ke USD10,63 miliar) dan hanya 4,5% dari pelebaran defisit migas. Cerita utamanya ekspor nonmigas yang tidak tumbuh secepat impor.
Sektor industri pengolahan tumbuh 3,96% YoY, ditopang nikel dan turunannya yang melonjak 60,60% atau USD1,23 miliar. Sektor pertambangan turun 11,17% karena batubara turun 8,35%, dan pertanian turun 32,18% karena kopi anjlok. Dekomposisi harga versus volume khas: nilai ekspor nikel naik 60,60% sementara harga global hanya naik 12,8%, sehingga volume diperkirakan naik 42%, dampak nyata hilirisasi. Sebaliknya nilai ekspor batubara turun 8,35% padahal harga batubara global naik, sehingga volume diperkirakan turun 20-26%, konsisten dengan impor batubara Tiongkok dari Indonesia yang turun 12,26% pada 2025. Indonesia bertumpu pada hilirisasi nikel, sambil kehilangan volume di batubara, pertanian, dan migas.
Ketergantungan struktural pada komoditas menjadi titik kerentanan. Empat golongan utama hasil olahan komoditas (minyak nabati, bahan bakar mineral, besi-baja, nikel) menyumbang sekitar 39% total ekspor Januari-Maret 2026. Digabung migas, pertambangan, dan pertanian, ketergantungan ekspor pada komoditas alam dan turunannya melampaui 50%. Pangsa industri pengolahan terhadap PDB justru menyusut dari 19,25% menjadi 19,07%. Agenda hilirisasi menunjukkan hasil di subsektor nikel, tetapi hilirisasi satu komoditas bukan transformasi struktural. Tanpa diversifikasi ke manufaktur non-komoditas seperti elektronik, mesin presisi, atau farmasi, Indonesia tetap rentan saat siklus komoditas berbalik.
Pada sisi impor, barang modal melonjak 24,02% menjadi USD12,98 miliar terutama mesin/peralatan mekanis; bahan baku/penolong naik 6,89% menjadi USD43,17 miliar. Investasi industri aktif, tetapi dibayar dengan devisa di muka sementara pemulihan ekspor butuh waktu. Secara teori pelemahan rupiah seharusnya memperbesar surplus. Yang terjadi sebaliknya: permintaan impor Indonesia inelastis terhadap nilai tukar karena energi, barang modal, dan bahan baku tidak mudah disubstitusi jangka pendek, sementara ekspor didominasi komoditas yang harganya ditentukan pasar global. Kurs sudah membayar harga depresiasi, tetapi neraca dagang tidak mendapatkan manfaatnya.
Keenam, NPL kredit pemilikan properti naik dari 3,08% (Desember 2025) ke 3,24% (Februari 2026), sementara PDB Real Estat hanya tumbuh 3,54%, terendah di sektor jasa. Sektor properti adalah barometer kelas menengah, dan barometer ini sedang tertekan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: