Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Melemah Parah, Ucapan Prabowo Soal Dolar Kini Viral: Wallahi We’re Doomed

Rupiah Melemah Parah, Ucapan Prabowo Soal Dolar Kini Viral: Wallahi We’re Doomed Kredit Foto: Antara
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (18/5/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka terdepresiasi 0,97 persen ke level Rp17.630 per dolar AS.

Posisi tersebut berbalik dibanding perdagangan terakhir sebelum libur panjang pada Rabu (13/5/2026), ketika rupiah ditutup menguat 0,17 persen di level Rp17.460 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Anjlok Parah Usai Prabowo Bilang Warga Desa Enggak Pakai Dolar

Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB tercatat menguat 0,09 persen ke level 99,370.

Pelemahan rupiah ini terjadi usai Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan terkait penguatan dolar AS terhadap rupiah saat meresmikan operasional koperasi desa dan kelurahan di Nganjuk, Sabtu (16/5/2026).

Di hadapan para menteri dan kepala daerah, Prabowo mengatakan masyarakat desa tidak perlu terlalu khawatir terhadap kenaikan dolar karena aktivitas sehari-hari tidak menggunakan mata uang AS tersebut.

“Mau dolar berapa ribu kek? Kan kalian di desa-desa enggak pakai dolar. Bilang yang pusing yang itu yang suka ke luar negeri. Ayo siapa ini? Mbak Titik ini pusing ini,” ujar Prabowo sambil tersenyum.

Pernyataan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah netizen menilai candaan tersebut tidak tepat disampaikan di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Akun X @txtdaritaxpayer menyebut respons Presiden seharusnya lebih menenangkan publik dan menunjukkan langkah konkret pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

“Padahal bisa banget looh responnya: Pemerintah memahami tekanan terhadap rupiah dan terus mengambil langkah terkoordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kok malah super denial bilang: ‘RAKYAT DI DESA NGGAK PAKAI DOLAR’. Wallahi we’re doomed,” tulis akun tersebut.

Unggahan itu kemudian memicu berbagai tanggapan dari netizen lain. Sebagian menilai pemerintah terkesan defensif terhadap kritik yang muncul terkait pelemahan rupiah.

“Solving problem = perlu effort. Declare there are no problem = no effort,” tulis salah satu netizen.

Netizen lain juga menilai narasi yang disampaikan pemerintah cenderung meremehkan persoalan ekonomi yang sedang terjadi.

“Di semua ocehannya kan selalu pakai narasi pecah belah. Karena ga mau mengakui kesalahan/kalah,” tulis netizen lainnya.

Sementara itu, komentar lain menyoroti sikap pemerintah yang dianggap tidak responsif terhadap kritik publik.

“Pemerintah membalas kritik dengan bersikap denial atau defensif aja udah ga bener, ini lebih parah anjir udahlah denial malah ngeattack orang yg ngasih kritik,” tulis netizen lain.

Baca Juga: Candaan Soal Dolar Naik, Prabowo: Mbak Titik yang Pusing

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi sentimen eksternal, terutama alotnya perundingan antara AS dan Iran yang membuat permintaan dolar AS di pasar global tetap tinggi. Selain itu, pasar mulai melihat peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS, The Fed, setelah sejumlah data ekonomi Amerika menunjukkan tekanan inflasi yang masih meningkat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar