Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Publik Jangan Panik! Purbaya Jelaskan Bedanya Kondisi Ekonomi 2026 dan Krisis 1998

Publik Jangan Panik! Purbaya Jelaskan Bedanya Kondisi Ekonomi 2026 dan Krisis 1998 Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp17.700 per dolar AS semakin memicu kekhawatiran publik akan terulangnya krisis moneter 1998. Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding masa krisis 1997-1998.

Menurut Purbaya, pelemahan rupiah pada 2026 tidak terjadi bersamaan dengan runtuhnya fondasi ekonomi nasional seperti yang pernah dialami Indonesia hampir tiga dekade lalu.

"Kalau rupiah melemah seolah-olah kita akan bergerak seperti 1997-1998 lagi. Beda, 1997-1998 itu kebijakannya salah dan instability sosial politik terjadi setelah setahun kita resesi. 1997 pertengahan itu kita sudah resesi,” kata Purbaya kepada wartawan, dikutip Rabu (20/5).

Ia menjelaskan, krisis 1998 dipicu kombinasi resesi panjang, kebijakan ekonomi yang keliru, hingga gejolak sosial politik yang semakin memperparah situasi. Saat itu, nilai tukar rupiah yang jatuh langsung menyeret sektor perbankan dan perekonomian nasional ke jurang kehancuran.

Baca Juga: Klaim APBN Sehat, Purbaya: Jangan Khawatir Kita Betul-betul Perbaiki Ekonomi Indonesia

Salah satu perbedaan paling mencolok, kata dia, terlihat dari tingkat inflasi. Pada puncak krisis 1998, Indonesia mengalami hiperinflasi hingga lebih dari 77 persen yang membuat harga kebutuhan pokok melonjak tajam dan daya beli masyarakat ambruk.

Sementara pada April 2026, inflasi Indonesia tercatat hanya 2,41 persen atau masih berada dalam rentang target pemerintah di kisaran plus minus 3 persen meskipun rupiah tengah tertekan.

Bukan hanya itu, kondisi pertumbuhan ekonomi juga dinilai sangat kontras. Pada 1998, ekonomi Indonesia terpuruk hingga minus 13 persen, menyebabkan aktivitas usaha lumpuh dan angka pengangguran melonjak drastis.

Sebaliknya, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 justru masih mampu tumbuh 5,61 persen. Angka itu disebut menunjukkan konsumsi domestik dan investasi tetap bergerak positif di tengah tekanan global.

Purbaya menilai kondisi tersebut menjadi bukti bahwa fondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibanding era krisis moneter.

Baca Juga: Purbaya Soal Ucapan Prabowo Orang Desa Tak Pakai Dolar: untuk Menghibur Rakyat

"Jadi fondasi kita memang betul-betul bagus, tidak usah khawatir," jelasnya.

Ia mengatakan pemerintah saat ini masih memiliki ruang yang cukup besar untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional meski pasar global tengah bergejolak.

Pernyataan itu sekaligus menjadi penegasan pemerintah bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipengaruhi volatilitas global, bukan karena keruntuhan ekonomi domestik seperti yang terjadi pada 1998.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: