Kredit Foto: Istimewa
Pelemahan nilai tukar rupiah menjelang pidato Presiden Prabowo Subianto di rapat paripurna DPR RI menjadi sorotan publik. Rupiah tercatat kembali melemah 0,31% pada pembukaan perdagangan Rabu (20/5/2026) ke posisi Rp17.760 per dolar Amerika Serikat (AS).
Di tengah tekanan terhadap mata uang Garuda tersebut, Prabowo dijadwalkan hadir langsung dalam rapat paripurna DPR untuk menyampaikan pandangan pemerintah terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027.
Baca Juga: IHSG dan Rupiah Ambruk Namun Coffee Shop Penuh, Kondisi Ekonomi Indonesia Jadi Sorotan
Pidato kepala negara itu dinilai menarik perhatian karena biasanya penyampaian KEM-PPKF dilakukan Menteri Keuangan atas nama presiden.
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai kehadiran langsung Prabowo tidak semata-mata berkaitan dengan pelemahan rupiah, melainkan menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap kebijakan fiskal nasional.
“Saya melihat tidak dalam satu aspek pelemahan rupiah itu membuat Bapak Presiden harus membacakan sendiri KEM-PPKF. Tapi saya melihat bahwa ada sebuah concern yang serius dari Bapak Presiden bahwa APBN itu mulai dari awal menjadi sebuah policy yang sungguh-sungguh untuk disampaikan kepada masyarakat secara luas,” kata Misbakhun di Kompleks Parlemen, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, langkah Prabowo membacakan langsung kerangka ekonomi makro dan pokok kebijakan fiskal menjadi tradisi baru dalam proses pembahasan anggaran negara.
“Pembacaan kerangka ekonomi makro, pokok-pokok kebijakan fiskal biasanya selama ini dibacakan oleh Menteri Keuangan atas nama Bapak Presiden. Jadi kalau hari ini dibacakan langsung oleh Bapak Presiden, itu menjadi sebuah tradisi baru memang,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyampaian KEM-PPKF merupakan tahapan awal atau kick off pembahasan RAPBN yang secara rutin dilakukan setiap 20 Mei.
“Bagaimanapun juga, KEM-PPKF, kerangka ekonomi makro, pokok-pokok kebijakan fiskal yang memang secara reguler dilakukan setiap tanggal 20 Mei sebagai putaran awal, kick off putaran awal pembahasan APBN,” kata Misbakhun.
Baca Juga: El Nino dan Karhutla Intai Indonesia, BMKG Waspadai Ancaman Musim Kemarau 2026
Pelemahan rupiah sendiri terjadi di tengah meningkatnya tekanan global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional. Nilai tukar rupiah kini terus bergerak di level terendah baru terhadap dolar AS sepanjang 2026.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar