Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Keok, Anies Baswedan: Berhentilah Beri Obat Tidur kepada Publik!

Rupiah Keok, Anies Baswedan: Berhentilah Beri Obat Tidur kepada Publik! Kredit Foto: Andi Hidayat
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali melontarkan kritik tajam terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilainya sedang berada dalam tekanan serius. Dalam pernyataannya di media sosial, Anies meminta pemerintah berhenti menenangkan publik dengan narasi yang dianggap semu.

Pernyataan itu disampaikan Anies melalui akun Instagram pribadinya @aniesbaswedan pada Rabu (20/5). Ia menilai situasi ekonomi saat ini “tidak baik-baik saja” dan membutuhkan keterbukaan penuh dari pemerintah.

Ia menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh titik terendah sepanjang sejarah. Menurut Anies, kondisi tersebut mulai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

“Rupiah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Harga-harga naik, kesempatan kerja menyempit, daya beli rumah tangga melemah, tabungan tergerus. Dan ini berdampak pada hajat hidup orang banyak,” ujar Anies.

“Saya mengajak kepada pemerintah berhentilah memberi obat tidur kepada publik. Buka data apa adanya. Sampaikan masalah dengan jujur. Berikan arah kebijakan yang jelas dan konsisten. Pimpin secara solid, ajeg, dan dari atas sampai bawah. Itu yang menenangkan pasar dan itu yang akan menenangkan rakyat,” ujar Anies.

Menurutnya, di tengah tekanan ekonomi dan gejolak global, masyarakat maupun pelaku pasar hanya membutuhkan satu hal, yakni kepastian arah kebijakan pemerintah.

“Dalam situasi seperti ini yang paling dibutuhkan pasar dan publik adalah satu hal, kepastian. Bukan ketenangan semu, bukan masalah yang ditaburi gula-gula. Tapi kepastian yang lahir dari transparansi dan kejujuran. Dari arah yang jelas, dari pemerintah yang tahu akan ke mana negeri ini dibawa,” katanya.

Baca Juga: Publik Jangan Panik! Purbaya Jelaskan Bedanya Kondisi Ekonomi 2026 dan Krisis 1998

Anies juga menyoroti pola komunikasi pemerintah yang dinilai hanya menampilkan data positif, sementara persoalan yang memburuk justru ditutup-tutupi. Kondisi itu disebut membuat pasar kehilangan kepercayaan.

“Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan. Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda. Kebijakan berubah-ubah. Hari ini begini, besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri, bahkan sebagian kabur,” ucap dia.

Tak berhenti di situ, Anies turut mengkritik keteladanan pemerintah dalam pengelolaan anggaran negara. Ia menilai ada ketimpangan ketika rakyat diminta berhemat, sementara pemerintah justru dianggap masih sibuk dengan agenda yang bukan prioritas.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: