- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Banyak Negara Tak Punya, Hashim Ungkap Berkah Air Bersih RI demi Sokong Ekosistem AI
Kredit Foto: Ist
Masa depan sektor energi Indonesia menghadapi babak baru dengan hadirnya tren teknologi global, khususnya Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyatakan kehadiran AI telah menjadi unsur baru yang akan mengubah peta kebutuhan energi nasional secara signifikan ke depan.
"Energi akan semakin besar kebutuhannya, dan ditambah dengan satu unsur baru yang beberapa tahun lalu belum begitu jelas, yaitu AI," kata Hashim dalam sambutannya di ajang IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026).
Hashim menekankan, industri AI saat ini tidak hanya haus akan daya listrik yang besar untuk menghidupkan pusat data (data center), tetapi juga memerlukan pasokan air bersih yang melimpah sebagai sistem pendingin (cooling system).
Di sinilah, kata Hashim, Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara lain. Salah satunya adalah pasokan air bersih yang melimpah.
"Kita punya salah satu sumber yang juga dibutuhkan untuk AI yang banyak negara tidak mempunyai, yaitu ada air bersih. AI perlu energi, perlu air. Indonesia punya air banyak," ungkap Hashim.
Di sisi lain, meski Indonesia masih melakukan impor untuk komoditas minyak bumi, Hashim menegaskan kekayaan sumber daya energi (energy resources) di dalam negeri masih sangat melimpah, mulai dari batubara hingga gas alam.
Dalam peta jalan energi masa depan ini, ia melihat gas bumi akan memegang peranan yang sangat krusial.
"Maka, saya optimis sektor energi sangat-sangat akan diandalkan, terutama gas," tegas dia.
Baca Juga: Hashim Ingatkan Investor Butuh Kepastian Hukum, Bukan Sekadar Potensi Energi
Baca Juga: Indonesia Menata Ulang Masa Depan Energi melalui Energi Terbarukan dan Hidrogen Hijau
Meskipun menaruh harapan besar pada sektor gas bumi untuk menyokong ekosistem AI, Hashim tidak menampik adanya tantangan komoditas ini. Terutama dari sisi kesiapan infrastruktur pipa dan distribusi yang membutuhkan investasi besar.
"Minyak (mungkin) lebih gampang kan, tidak perlu infrastruktur seperti gas. Tapi, gas akan semakin dibutuhkan untuk mendukung AI yang akan semakin dibutuhkan," pungkas dia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: