Kredit Foto: PLN
Ledakan pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan komputasi awan (cloud computing) mulai memunculkan tantangan baru bagi sektor energi India. Permintaan listrik yang melonjak dari industri pusat data diperkirakan memberi tekanan besar terhadap kapasitas jaringan listrik nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Mumbai saat ini menjadi pusat data terbesar di India dengan 61 fasilitas yang melayani perusahaan global seperti Google, Amazon, dan Microsoft. Namun, pertumbuhan industri tersebut membuat kebutuhan energi di kota itu diproyeksikan meningkat tajam hingga 2030.
Mengutip laporan The Straits Times, pusat data di Mumbai diperkirakan dapat mengonsumsi sepertiga listrik yang diproduksi kota tersebut pada 2030 seiring meningkatnya penggunaan AI dan layanan cloud computing.
Fenomena ini mencerminkan tantangan yang lebih luas di tingkat nasional. India saat ini memiliki sekitar 270 pusat data yang mengonsumsi sekitar 0,5% dari total produksi listrik nasional. Angka tersebut diproyeksikan meningkat hingga 3% pada 2030.
Di tengah tingginya permintaan AI global, sejumlah perusahaan teknologi dan konglomerasi India mulai memperbesar investasi pusat data.
Google, misalnya, menggelontorkan investasi sebesar US$15 miliar untuk pembangunan pusat data AI di Visakhapatnam, Andhra Pradesh. Investasi tersebut disebut menjadi yang terbesar bagi Google di India hingga saat ini.
Selain Google, sejumlah perusahaan besar seperti Reliance Industries, AdaniConneX, Tata Consultancy Services, dan Bharti Airtel juga tengah membangun pusat data berskala besar.
Industri juga melihat India berpotensi menjadi lokasi alternatif pusat data global di tengah meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Kondisi ini mendorong perusahaan hyperscaler global melakukan diversifikasi lokasi infrastruktur digital mereka.
Chief Executive Officer Yotta Data Services, Sunil Gupta, mengatakan sejak Maret 2026 terjadi lonjakan permintaan pembangunan pusat data di India dengan kebutuhan kapasitas mencapai 200 hingga 500 megawatt (MW).
Ia menilai banyak perusahaan mulai merombak strategi infrastruktur digital guna mengurangi risiko geopolitik.
Besarnya kebutuhan energi dari pusat data AI dinilai menjadi tantangan serius bagi India. Satu pusat data AI berkapasitas 100 MW disebut dapat mengonsumsi listrik setara sekitar 750.000 rumah tangga di India.
Pendiri penyedia layanan cloud AI NeevCloud, Narendra Sen, mengatakan penggunaan AI akan meningkatkan konsumsi energi secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Pusat data sangat boros daya dan mengonsumsi lebih banyak listrik. Karena semakin banyak orang menggunakan AI sekarang, semakin banyak kueri, berarti semakin banyak analisis, dan itu akan mengakibatkan konsumsi daya 20 hingga 30 kali lebih besar di masa depan,” ujar Narendra Sen, dikutip Jumat (8/5/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: