- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
IESR Tolak ‘Alasan Petir’ di Balik Blackout Sumatra, Soroti Molornya Tol Listrik 500 kV
Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Dari kacamata infrastruktur, IESR menyoroti tertundanya penyelesaian proyek jaringan transmisi 500 kV rute Lahat–Medan yang seharusnya rampung pada 2019. Molornya proyek penyangga ini membuat ketahanan listrik Sumatra sangat rentan.
“Jaringan transmisi 500 kV ini seharusnya menjadi tol listrik di sistem Sumatra. Akibat tertundanya proyek ini, sistem masih terlalu bergantung pada backbone 275 kV. Efeknya, ketika satu koridor terganggu, dampaknya jauh lebih mudah menyebar,” papar Fabby.
Baca Juga: Listrik Padam di Sumatera Telan Korban Jiwa di Sumbar dan Sumut
Atas kelumpuhan ekonomi yang terjadi, IESR mendesak PLN segera membayarkan kompensasi kepada pelanggan terdampak sesuai ketentuan Permen ESDM No. 2/2025 tentang Tingkat Mutu Pelayanan (TMP). Blackout ini memicu kerugian ekonomi signifikan bagi pelaku usaha, industri, hingga hilangnya pendapatan PLN sendiri dari listrik yang gagal tersalurkan (energy not served).
Sebagai langkah antisipasi masa depan, IESR merekomendasikan pelaku bisnis dan sektor rumah tangga menengah atas untuk beralih menggunakan PLTS atap yang diintegrasikan dengan Battery Energy Storage System (BESS). Solusi ini jauh lebih kompetitif guna menjaga ketahanan operasional bisnis ketimbang mengandalkan genset BBM yang mahal saat krisis pasokan terjadi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Fajar Sulaiman